
Ada banyak cara untuk menjadikan kita sejahtera, dan hal yang pasti umum diketahui adalah dengan melakukan investasi, mengeluarkan sejumlah modal untuk harapan pendapatan keuntungan dimasa yang akan datang. Namun adalah kenyataan masih amat sedikit orang yang

berani memulai karena berkaitan dengan modal dan terutama hambatan resiko.
Ditinjau dari sifatnya, ada 2 tipe investasi, yaitu Investasi Langsung di bisnis usaha & Investasi Tak Langsung semisal modal penyertaan di Bursa Efek.
Dalam hal Investasi Langsung di bisnis usaha, faktor resiko dapat dikurangi dengan memodel pesukses sebelumnya, dengan sistem waralaba yang telah teruji ataupun bimbingan pelatihan bisnis professional akan sangat membantu dalam menumbuhkan, kembangkan wirausahawan baru.
Sementara Investasi Tidak Langsung di Bursa Efek Indonesia sendiri lebih sedikit lagi dengan jumlah investor tidak sampai 1% dari jumlah penduduk. Masing-masing orang mungkin memiliki pandangan yang beragam tentang resiko berinvestasi di Bursa Efek, namun mengutip Investor Terbaik Dunia yang mengatakan:
Risk comes from not knowing what you are doing – Warren Buffett.
Karenanya mitos high risk high gain dan low risk low gain bisa sedikit diperbaiki menjadi low intelligent low gain with high risk. Dan untuk mendapatkan high gain dengan low risk dibutuhkan high intelligent.
Pertama, benarkah investasi di Bursa Efek itu beresiko? Mari kita telaah lebih lanjut.
Di Amerika, Indeks S&P500, yang mewakili 70% nilai saham yang beredar, selama tahun 1950 hingga 2010 menghasilkan rata-rata 7.26% pertahunnya.
Sedangkan di Indonesia sendiri IHSG selama 13 tahun terakhir rata-rata tumbuh sebesar 12.06% pertahunnya.
Artinya hanya dengan melakukan investasi pasif pada indeks pasar sendiri saja, rata-rata setiap tahunnya kita akan menerima tingkat pengembalian yang kurang lebih sama dengan tingkat pengembalian yang paling rendah yang bisa diterima dan menjadi barometer investor, 7.26% di Amerika dan atau 12.09% di Indonesia.
Berinvestasi di Indeks harus memiliki kesabaran karena meskipun akan selalu ada masa konsolidasi dengan volatilitas yang tinggi dan ataupun resesi yang berlangsung, pada dasarnya indeks pasar akan selalu naik dalam jangka panjang.
Dengan logika selalu ada inflasi yang menaikkan nilai bahan dasar, kenaikan nilai barang akan juga menyebabkan kenaikan nilai jasa, sehingga secara keseluruhan kenaikan suatu produk adalah lebih tinggi sehingga nilai perusahaan pun menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya nilai indeks pasar tentunya juga akan selalu meningkat.
Karenanya semakin lama investasi yang dilakukan, akan semakin besar pula kemungkinan untuk profit dan semakin kecil resiko yang dihadapi. Sebab itulah saat ditanya tentang horizon waktu investasi, Buffett menjawab: selamanya.
Untuk menjadikannya lebih realistik bahwa tidak ada investasi di dunia nyata yang menjadikan kaya dalam sehari. Namun keuntungan yang kecil namun konsisten saja sebenarnya sudah cukup untuk bisa membuat kita mencapai impian kesejahteraan.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more