
Ia adalah salah satu produk kebudayaan tertua dalam sejarah kebudayaan manusia. Ketika kita meminumnya, kita tidak hanya sekadar menengguknya. Dalam setiap tetesnya terkandung hasil olah alam yang dikerjakan manusia.
"> Alkisah, seorang petani wanita menaruh hasil panen anggurnya ke dalam gentong kayu. Karena begitu banyaknya jumlah anggur yang tertampung di dalam gentong kayu tersebut, akibatnya buah anggur yang berada di lapisan bawah gentong tergencet dan hancur tertindih buah-buah anggur yang ada di lapisan atas. Hasilnya, jus buah anggur menggenang di bagian bawah gentong. Sebagaimana lazimnya, di permukaan kulit buah anggur terdapat ragi alami. Ragi ini menyebabkan terjadinya fermentasi bagi jus buah anggur tersebut. Setelah sekian hari proses fermentasi alami berjalan, muncullah minuman bernama wine. Inilah kisah yang mengawali perjalanan panjang sebuah minuman bernama wine dalam buku Rahasia Wine, karya Yohan Handoyo.
Kata “wine” berasal dari bahasa Proto-Germanic, “winam.” Orang Latin menyebutnya “vinum.” Data sejarah arkeologi menyebutkan, proses fermentasi anggur telah ada di daerah Georgia, Iran sekitar tahun 6000 SM. Laporan tahun 2003 menyatakan adanya proses fermentasi dengan campuran beras dan anggur di Cina pada tahun 7000 SM.
Menghadapi segelas wine yang berada di dalam sebuah gelas Schott Zwiesel tentu berbeda dengan minuman beralkohol lainnya. Merasakan wine adalah sebuah tindakan dengan seluruh alat indera sekaligus mengevaluasi wine. Ia terbuat dari olah kimiawi yang alami. Rasa manis yang terkandung di dalamnya ditentukan oleh sejumlah residu gula di dalamnya setelah proses fermentasi.
Untuk bisa merasakan dan mengenali sebuah wine, Anda mesti mencermati dahulu warna wine tersebut. Di sini indera sensorik Anda akan diuji kemampuannya. Wine, yang pada umumnya berbahan baku anggur jenis vitis vinifera, terbuat dari campuran kimiawi yang serupa atau identik dengan buah-buahan, sayuran dan rempah-rempah. Ada wine yang terasa manis. Ada pula wine yang tidak begitu manis. Namanya dry wine.
Selain itu, wine juga punya elemen-elemen rasa yang terpengaruh oleh kayu oak yang digunakan sebagai gentong penyimpanan, tempat fermentasi. Rasa yang muncul bisa menyerupai rasa coklat, vanilla atau kopi.
Ada pameo tentang wine yang mengatakan, “semakin tua, semakin enak.” Benarkah? Yohan Handoyo dalam bukunya mengatakan bahwa hal itu belum tentu benar. Wine memiliki masanya sendiri. Jika terlalu lama tidak diminum, wine itu bisa ‘mati.’ Yang sedang menjadi trend saat ini justru para pembuat wine mencari cara untuk membuat wine dalam tempo waktu yang tidak begitu lama.
Harga yang tidak bisa dibilang murah untuk sebotol wine jelas menunjukkan kelas siapa yang bisa menikmatinya. Kini telah ada di Jakarta sejumlah wine house yang menyediakan ruang bagi Anda yang ingin menikmati segelas wine. Suasana yang cozy. Alunan musik yang lembut mengiringi Anda dalam menikmati sensasi rasa wine. Tanpa Anda sadari, Anda terbuai oleh nikmatnya sejarah peradaban manusia yang tertuang dalam gelas.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more