
Menjadi seorang entrepreneur berarti bahwa Anda adalah tipe seseorang yang berkeinginan untuk mel

uncurkan sebuah proyek dan menuai penghargaan untuk kesuksesan, tak ubahnya seperti mengambil tanggung jawab untuk kegagalan.
Tapi menjadi seorang entrepreneur juga berarti Anda itu ‘kecil’ – setidaknya ketika memulai pertama kalinya. Tentu saja, ketika kebanyakan dari bisnis-bisnis kecil ingin menjadi bisnis yang besar ketika mereka bertumbuh-kembang. Banyak entrepreneur yang menderita dari apa yang kita katakan sebagai sindrom ukuran.
Karena mereka ‘kecil,’ mereka berpikir dan bertindak kecil – dan di situlah letak masalahnya. Karena berpikir kecil dan bermain kecil biasanya menjaga Anda. tetap… kecil. Apa yang harus dilakukan oleh pemilik dan entrepreneur bisnis kecil adalah berpikir, bertindak dan memainkan yang besar.
Berikut ini adalah tiga tahap untuk mulai mengatasi sindrom ukuran:
1. Rintangan pertama untuk mengatasinya adalah kepercayaan bahwa kebanyakan prospek (baik prospek itu adalah individual atau organisasi) tidak berminat dalam produk atau layanan Anda. Kenyataannya adalah, mereka tidak peduli tentang ukuran bisnis Anda. Mereka peduli tentang bagaimana memecahkan masalah-masalah mereka, tidak peduli solusinya datang dari mana.
Ketika berpikir tentang panggilan pada permintaan yang besar, pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah Anda memiliki sesuatu yang bernilai yang mungkin mereka inginkan, butuhkan atau mungkin mendatangkan keuntungan? Jika Anda demikian, lalu Anda perlu meletakkan persepsi Anda tentang kekecilan di pinggir dan mulai dengan menceritakan mereka tentang kisah Anda.
2. Rintangan kedua untuk mengatasinya adalah menyadari bahwa “panggilan pada perusahaan” adalah penyebutan nama saja. Anda tidak pernah dihubungi sebagai sebuah bisnis, Anda dihubungi dengan kapasitas sebagai seorang individu. Sebuah perusahaan tidak akan menghubungi perusahaan lainnya. Yang selalu terjadi adalah seorang pribadi yang menghubungi pribadi lainnya. Perusahaan tidak pernah membeli sesuatu, tapi justru manusialah yang melakukannya.
Dan jangan biarkan ukuran atau reputasi dari sebuah organisasi (atau pun titel atau posisi dari seseorang yang berurusan dengan Anda) mengintimidasi Anda. Betul bahwa seorang pria adalah presiden direktur dari sebuah perusahaan multinasional, tapi, yang pertama dan utama, dia adalah seorang suami, ayah dan manusia – pembimbing bagi tim sepak bola putrinya yang berusia 8 tahun dengan jempol kakinya yang sedang meradang.
3. Akhirnya, pemilik bisnis yang kecil perlu memahami bahwa sebuah ‘tidak’ adalah ‘tidak’ – tidak peduli dengan seberapa besar prospeknya. Jadi, jika Anda sedang pergi untuk mendapatkan sebuah ‘tidak,’ kenapa tidak menjadikannya sebuah ‘tidak’ yang besar?
Berikut ini adalah contoh yang sempurna: dalam NBA, Anda bisa mendapatkan 2 angka atau 3 angka. Analisa dari sebuah musim yang biasa menunjukkan bahwa tingkat kesuksesan dari 10 pemain terbaik NBA pada 2 angka adalah 46.9 persen dan untuk 3 angka adalah 33.8 persen. Dengan kata lain, hanya perlu 38 persen lebih keras untuk menjadikannya tembakan 3 point, namun reward-nya adalah 50 persen lebih tinggi! Tapi menurut Anda, itu adalah 10 persen terbaik.
Garis bawah: posisi ini tidak membutuhkan energi lebih untuk mendapatkan sebuah ‘tidak’ yang besar ketimbang mendapatkan yang kecil. Seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, mudah mengiyakan menghasilkan sedikit kesuksesan. Dan jika Anda adalah sebuah bisnis yang kecil berkeinginan untuk menjadi bisnis yang besar, ‘tidak’ yang besar merupakan satu-satunya jalan.
Tanyalah diri anda: Apakah ekspektasi saya terhadap apa yang mungkin cukup besar? Atau apakah saya merendahkan ekspekstasi hanya karena saya melihat diri saya ini kecil? Apakah saya bertanya dan menyesuaikan untuk hal-hal yang tidak berharga? Ataukah saya menembak bintang-bintang?
Sumber: SUCCESS Magazine yang diambil dari http://www.successmagazine.com/small-business-seeks-big-opportunity/PARAMS/article/1058/channel/22


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more