
“Dalam situasi sulit seperti ini siapapun yang melakukan bisnis, pasti akan sulit untuk sukses. Betul tidak, bu?” tanya seorang peserta workshop kami suatu hari.
Saya jawab dengan singkat, “Tidak.&r

dquo;
“Lho, kok ibu bisa jawab begitu? Buktinya orang yang saya kenal semuanya mengatakan bahwa bisnis itu semakin sulit dan pendapatan mereka pun menurun terus”
Lalu saya jawab dengan sebuah cerita: Ada seorang bapak yang membuka sebuah toko kelontong. Setiap pagi dia akan bangun pagi sekali, kemudian menyapu tokonya, melap semua pintu, jendela dan juga papan nama di depan tokonya. Setiap pagi banyak yang datang belanja di tokonya dan si bapak ini akan melayani dengan ramah dan dengan senyum di wajahnya dan melayani dengan cekatan dan gembira.
Suatu hari anaknya yang disekolahkan di luar negeri kembali ke kota tersebut dan disambut dengan sangat gembira oleh si bapak. Dia berharap si anak akan membantunya menjaga toko, karena akhir-akhir ini tokonya semakin ramai dan dia agak repot melayaninya sendirian. Si bapak juga berharap bahwa anaknya akan membawa perubahan dan nuansa baru mengingat anaknya sudah disekolahkan di bidang ‘business management.’
Ketika ditanyakan kepada si anak, apa yang dapat ditingkatkan dari tokonya, si anak menjawab, “Pak, sekarang ini sedang resesi pak. Jadi semua toko semakin sepi pengunjung dan banyak juga toko yang tutup. Mau dilakukan perubahan apapun, tetap sulit pak, karena memang sedang ada krisis global, pak.”
Si bapak yang memang tidak bisa membaca dan menulis, tidak tahu ada yang namanya krisisglobal. Tetapi karena anaknya yang baru saja selesai kuliah di luar negeri yang mengatakannya, maka si bapak sangat percaya.
Keesokan harinya si bapak bangun agak siang dan tidak membersihkan tokonya, karena dia berpikir bahwa sedang ada krisisglobal. Apapun yang dilakukan, tetap saja toko akan semakin sepi pengunjung.
Karena tokonya buka semakin siang, maka banyak pelanggan yang kecewa dan akhirnya mulai beralih ke pedagang kelontong yang lain.
Karena tokonya tidak pernah dibersihkan, maka tokonya menjadi jorok dan papan nama tokonya semakin kotor tertutup debu. Pembeli memang jauh berkurang dan pendapatan toko juga berkurang.
Si bapak mengatakan kepada si anak “Nak, benar yang kamu katakan, sekarang sedang krisisglobal. Buktinya pengunjung toko bapak berkurang. Omset berkurang dan keuntungan juga berkurang. Bagaimana kalau kita tutup dulu toko kita sementara ?”
Seperti yang Anda duga, maka toko si bapak yang menjadi sumber kehidupan dan merupakan sumber dana untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri inipun akhirnya, tutup. Hanya karena si bapak percaya bahwa sedang ada krisisglobal.
Apakah apabila ada krisis global, lalu tidak ada yang belanja?
Apakah kira-kira penyebab tutupnya toko si bapak adalah karena krisis global?
Bukankah sebelum anak itu kembalipun krisis sudah melanda, tetapi bisnis si bapak malah semakin ramai?
Apapun yang kita pikirkan mengenai bisnis kita, maka itulah yang akan terjadi. Apabila si bapak masih secara rutin melakukan kegiatannya membersihkan toko, membersihkan papan nama, dan menyapa pelanggannya dengan baik, maka kemungkinan besar tokonya masih berdiri dan semakin besar.
Dengan ditutupnya toko si bapak, siapa yang diuntungkan?
Tentunya toko lain akan mendapatkan limpahan pelanggan, dan toko mereka yang akan semakin ramai.
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di majalah EXCELLENT, no. 04, edisi Juni 2010.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more