
Dua hari di bulan Mei 12 tahun yang lalu menjadi halaman kelam dalam buku sejarah perjalanan negara Indonesia. Suasana tidak menentu. Keamanan menjadi barang langka yang sukar ditemukan di Jakarta. Peristiwa menyedihkan tersebut menyentak kesadaran seorang Tommy Siawira.

“Apa yang salah dengan bangsa ini?” tanyanya dalam hati.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya, tapi ‘miskin.’ Negara tetangga bernama Singapura justru ‘miskin,’ tapi kaya. Negara dengan satu pulau tersebut merdeka tahun 1965 dan saat itu penduduknya hanya 2,5 juta jiwa. Tanpa sumber daya alam yang melimpah, tanpa memiliki air bersih yang cukup. Kini, 40 tahun kemudian penduduknya menjadi 4,5 juta jiwa dengan GDP sebesar 40.000 USD. Sedangkan Indonesia yang luasnya ribuan kilometer dengan penduduk di atas 235 juta jiwa dan kekayaan alam yang melimpah hanya memiliki GDP sekitar 2.500 USD.
Apa yang salah dengan Indonesia? “Saya harus berbuat sesuatu untuk negara dan bangsa ini,” ujarnya. Hingga akhirnya ia sampai pada pangkal permasalahannya.
“It’s the mindset, pola pikir!” ungkapnya dengan yakin. Mindset adalah pola pikir seseorang. Lebih jauh, mindset berarti sikap mental (fix mental attitude). Menurutnya, pasti ada sikap mental bangsa Indonesia yang tidak pas.
Keprihatinannya tersebut mendorong pria yang pernah menjadi pengajar lembaga kursus bahasa Inggris di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) ini untuk mendirikan Wealth Mindset Training, sebuah perusahaan yang melayani pelatihan, konsultasi dan pembinaan bisnis. Untuk menjawab keprihatinan tersebut, ia berangkat ke NLP University, Amerika Serikat pada 2003. Di sana ia mendalami NLP(Neuro language Programming), sebuah metode psikologi unik yang mampu membawa perubahan pada diri seseorang secara signifikan dalam tempo waktu yang relatif singkat. Ia menjadi orang Indonesia yang pertama mendapatkan sertifikat coaching dan training dari lembaga yang berpusat di California tersebut.
Jalur Menuju Puncak Prestasi
Banyak orang mengenal Tommy Siawira sebagai salah satu public speaker yang kini lebih kondang sebagai motivator handal. Secara lebih spesifik, Tommy menegaskan, “bidang saya adalah human excellence.” Ia mempelajari bagaimana caranya seseorang mencapai puncak kesuksesan atau bagaimana seseorang menjadi pribadi yang luar biasa. Untuk itulah ia sering melakukan riset agar mengetahui jalan menuju kesuksesan di berbagai bidang. Ia percaya, setiap jawara di bidangnya pasti punya jalur menuju juara tersebut. “Saya sebagai motivator melakukan riset agar tahu jalan menjadi hebat. Mesti ada jalannya untuk jadi hebat,” katanya dengan penuh semangat. Jalur menuju kehebatan itulah yang ia bawakan di seminar, training, workshop, talkshow radio ataupun di coaching season.
Tidak hanya mengenali jalur kesuksesan orang-orang hebat, ia pun melakoni jalurnya sendiri. Tommy Siawira terlahir dari keluarga sederhana di Medan, Sumatera Utara. Pada usia 12 tahun, ia membantu orang tua dengan berjualan di warung. Nyaris tiap harinya bertemu dengan tahu, tempe. Untuk sayurnya, paling-paling hanya sayur kangkung.
Tahun 1986, ia melanjutkan pendidikan menengah di SMP Strada, Bekasi. Jenjang pendidikan berikutnya ia jalani di SMU Fons Vitae II, Jakarta. Untuk pendidikan tinggi, ia memilih kuliah di GS Fame Institute of Business, jurusan marketing.
Kefasihannya dalam berbahasa Inggris telah menjadikannya sebagai pengajar di lembaga kursus bahasa Inggris ternama selama 4 tahun, terhitung dari tahun 1994-1998. Selanjutnya, ia tinggalkan dunia pendidikan dan menjejakkan kaki di bidang bisnis. Selain itu Tommy juga pernah menjalankan profesi sebagai distributor di salah satu perusahaan Multi Level Marketing terbesar di dunia hingga tahun 2000, sambil itu Tommy bekerja pernah sebagai asisten General Manager di PT. Gaya Wahana hingga tahun 1997. Tahun 2000, karirnya menanjak. Ia menempati posisi direktur di salah satu perusahaan konsultasi di bidang investasi. Tiga tahun kemudian ia mendirikan sekaligus menjadi direktur bagi perusahaan yang ia dirikan sendiri, yaitu Wealth Mindset Training and Coaching.
Perjalanan panjangnya tidak berlalu begitu saja. Pengalaman hidupnya menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tommy mengakui, dirinya selalu ingin menjadi lebih baik. Pengalaman hidup masa lalu yang tergolong susah tidak menciutkan pribadi Tommy. Ia justru semakin dikuatkan oleh semua pengalaman hidupnya dahulu. Kekuatan itulah yang mendorongnya untuk semakin maju dan berkembang.
Naikkan standar kemampuan
“Kita sudah lama tertidur nyenyak dan masuk comfort zone,” kata Tommy. Kondisi aman dan nyaman bisa menina-bobokkan kita. Inilah yang menjadi tembok penghalang kita. Lihat saja Jepang dan Cina. Kedua negara itu tidak memiliki sumber daya alam sekaya Indonesia. Dengan 4 musim, mau tidak mau rakyat di kedua negara itu harus menguatkan otot dan melatih mental mereka dalam menghadapi tantangan. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan alam untuk kemakmuran hidup. Pola pikir harus diubah. Yang bisa dan harus diandalkan adalah sumber daya manusia. Dan ini berarti harus ada edukasi yang bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Tommy melanjutkan, dari hasil risetnya ternyata yang menentukan bisa atau tidaknya seseorang untuk bersaing di tengah-tengah persaingan tingkat internasional bukanlah kemampuan (skill) manusianya. Yang jadi pokok penting adalah peningkatan standar. “Kita harus tingkatkan standar kita. Jangan cuma jadi yang rata-rata aja. Jangan mau jadi medioker!,” ujarnya mantap. Kalau cuma jadi medioker, bisa-bisa orang lain yang lebih pintar yang mengambil dan memanfaatkan sumber daya kita. Dan kita hanya bisa jadi penonton aja, bukan pemain.
Tommy pun lalu melanjutkan, “Einstein pernah berkata, ‘Things can be simple but not any simpler.’” Segala hal boleh sederhana, tapi bukan asal gampang. Kita boleh menyederhanakan sesuatu agar bisa lebih memahami tapi bukan asal disederhanakan. Bahkan, menurut Tommy, kita jangan sampai menjadi seorang medioker yang menggampangkan segala sesuatunya. Jangan berpikiran minimalis jika bisa berbuat maksimal.
Kita harus senantiasa menaikan standar kita apakah dalam hal berpikir maupun berprilaku, kita harus berani menetapkan goal maupun impian yang besar. Impian yang besar akan membuat kita semangat untuk mencapainya, imbuh Tommy.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more