Highlight

ANTHONIUS THEDY: ‘Seniman’ yang Berpihak Kepada Konsumen

Mimpi tidak berada di dunia nyata. Mimpi punya dunianya sendiri yang ada di sebelah sana. Ketiadaannya di dunia nyata kita tidak berarti sebatas impian belaka. Mimpi bisa jadi sebuah proyeksi di masa depan. Ia ada di sana. Anda berani bergerak maju untuk menggap

ANTHONIUS THEDY: ‘Seniman’ yang Berpihak Kepada Konsumen

ainya?

 

Siapa pun bisa bermimpi. Pertanyaannya, siapakah yang berani mewujudkan mimpi-mimpinya? Tidak banyak pribadi yang berani menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu dari antara yang sedikit itu adalah Anthonius Thedy.

Mimpinya bermula di kelas tiga sekolah dasar. Saat itu ia bermimpi, bisnis itu jalan-jalan, dapat duit dan dibayar. Jawab Papanya,”Oh, gampang! Jadilah pengusaha kaya raya.” Memang ketika itu keinginannya masih dipandang sebelah mata oleh orang tuanya. Apa lagi jika mimpinya itu menjadi sebuah pilihan hidup, pilihan yang tidak populer.

Ketika masih bersekolah, Anthonius Thedy sering mengadakan tur dari Sukabumi ke Jakarta. Salah satu tur perdananya adalah membawa rombongan teman-teman sekolahnya ke Jakarta Fair. Tanpa modal apapun, ia mengumpulkan teman-teman sekolah untuk bersama-sama pergi ke Jakarta Fair. Untuk urusan uang, ia mengumpulkan dana dengan cara meminta orang tua untuk memasak. Kemudian mereka menjual kembali masakan orang tua mereka kepada orang tua teman-teman mereka lainnya.

Sekian kali melakukan perjalanan, Anthonius Thedy mulai mempertanyakan itu semua. “Bukan ini yang saya mau,” ujarnya dalam hati. Ia tidak mau menjadi pengusaha kaya yang kemudian melakukan perjalanan bersama teman-temannya. Yang ia inginkan justru menjadikan jalan-jalan itu sebagai profesi.

Barulah saat duduk di bangku SMP ia mulai menemui pintu masuk ke dunia yang kini sudah melekat pada dirinya. Selepas SMP, ia memilih meneruskan studinya ke sekolah pariwisata. Lulus dari sekolah pariwisata, ia bergabung dengan Vaya Tour. Di situ, ia dicemplungkan ke bagian travel. “Jadi, sesuai dengan mimpi, meski perjalanan saya masih jauh. Tapi ya… perjalanan yang sesuai dengan yang saya inginkan,” akunya. Sepanjang dasawarsa 80-an Anthonius Thedy melakoni pekerjaan sebagai karyawan. Baru di tahun 1991 ia berani mengambil jalan hidupnya sendiri. Alasannya, ingin mempercepat perjalanannya menuju mimpi pribadi. Pada tahun itu pula ia mendirikan Jakarta Express, salah satu karyanya yang mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai travel grosir pertama di Indonesia. Tahun 2004 lalu, pria yang mengaku sebagai seniman di bidang bisnis ini mendirikan TX Travel. Kembali ia memperoleh penghargaan MURI sebagai travel pertama yang di-franchise-kan. Kini sudah ada 126 kantor TX Travel yang tersebar di seluruh Indonesia.

Memaknai Perjalanan Hidup

Jejak langkah hidupnya semenjak di Sukabumi pada 8 Desember 1960 hingga kini sebagai Managing Director TX Travel di Jakarta tidak sekadar sebuah jejak langkah biasa. Perjalanan panjang selama ini telah sarat dengan pengalaman hidup yang berharga. Itu semua bermakna bagi seorang Anthonius Thedy.

Perjalanannya mengelola bisnis franchise di bidang travel sejak 2004 hingga sekarang telah membuka kemungkinan yang selama ini belum terpikirkan olehnya. Selama enam tahun terakhir ini Anthonius Thedy melakukan pemotongan penghasilannya. Ini memang berkebalikan dari yang sewajarnya terjadi dalam sebuah bisnis. Ia mengakui bahwa ia ingin memberikan sesuatu kepada industri bisnis franchise. Dan memang ia sungguh sadar bahwa dirinya punya kesempatan dan kemampuan oleh Sang Pencipta untuk berkarya seoptimal mungkin di bidang travel. Hal ini membuatnya yakin bahwa karya nyata di dunia ini kelak harus dipertanggunjawabkan. Dalam kenyataanya, ia merelakan penghasilannya dikurangi. “Saya perlu uang, penghasilan,” akunya, “namun uang bukanlah sebuah titik awal dari sebuah hubungan baik.”

Refleksi inilah yang memungkinkan baginya untuk mengambil kebijakan khusus kepada beberapa franchisee TX Travel. Ia sanggup memangkas franchise fee yang seharusnya Rp. 150 juta menjadi Rp. 36 juta dan dicicil selama 2 tahun.

Menggandeng Franchisee: Ekonomi Kebersamaan

Rasanya sulit dipercaya, seorang franchisor TX Travel yang mem-franchise-kan bisnisnya sanggup mengambil kebijakan khusus bagi seorang franchisee, mengenakan franchise fee hanya Rp. 36 juta yang dicicil selama 2 tahun. Apa dampak bagi bisnis franchise yang dikelolanya?

Bagi pebisnis pada umumnya, kesimpulannya jelas: rugi.

Tapi bagi Anthonius Thedy, TX Travel tidak rugi. Dirinya tahu benar, jika ia tidak mengambil kebijakan yang tidak masuk akal tersebut, cerita di ujung sana berakhir pada kerugian. Jika rekan bisnisnya merugi, kisah yang tidak mengenakkan tersebut akan menyebar ke mana-mana. Sebaliknya, seandainya dengan modal segitu TX Travel bisa bertahan hidup (baca: survive), rekan bisnisnya akan mengumandangkan kisah sukses kepada siapa saja. Dengan begitu akan terjalin kebersamaan yang baik antara dirinya dengan para rekan bisnisnya.

Bisnis franchise bisa membantu siapa pun yang hendak punya bisnis yang dikelolanya sendiri. Hal yang tentunya lebih mudah ketimbang merintis bisnisnya sendirian. Dengan menjadi seorang franchisee, ia hanya tinggal mengelola bisnis yang telah jadi. Menurut Anthonius Thedy, inilah salah satu kekuatan TX Travel. Kekuatan sebuah bisnis travel terletak di pemiliknya. Maka rumusnya adalah owner operator adalah owner power.

Bisnis travel merupakan bisnis pelayanan. Jika ada seorang pelanggan membutuhkan layanan TX Travel, ia akan mendapatkan layanan terbaik. Persoalannya menjadi tampak ketika TX Travel membuka cabang-cabang baru di berbagai kota. Pelanggan tersebut harus mendapatkan layanan prima pula ketika hendak membeli tiket di Ambon, Bandung, atau Kendari. Pelayanan terbaik kepada setiap pelanggan di seluruh cabang TX Travel akan meninggalkan kesan tersendiri di hati para pelanggan. Dengan begitu, para pelanggan tidak akan segan-segan untuk merekomendasikan TX Travel. Inilah kekuatan kedua yang dimiliki TX Travel.

Demi pemerataan pelayanan tersebut, Anthonius Thedy selalu memberikan motivasi kepada setiap franchisee dan karyawannya setiap bulan. Untuk Indonesia bagian Barat, Jakarta adalah tempatnya. Sedangkan Surabaya menjadi markas bagi keluarga besar TX Travel di Indonesia bagian Timur. Dalam setiap kesempatan, ia selalu memberitahukan bagaimana cara melayani pelanggan dengan baik. Ini berarti terciptanya kesamaan persepsi dalam keluarga besar TX Travel. Selain itu, ia pun berkesempatan untuk membagikan mimpi-mimpinya.

Meski menjalankan bisnis franchise, tidak berarti seorang franchisee terjamin kesuksesannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Anthonius Thedy, para franchisee harus berusaha untuk mengoptimalkan kinerja dan pelayanan bisnisnya. Anthonius Thedy mengatakan harus ada tiga hal yang menjadi tips kesuksesan bisnis travel. Pertama, siapkan waktu dalam sehari dua puluh lima jam. Artinya tidak ada kata “cukup” untuk beristirahat dan berleha-leha jika Anda menjalankan bisnis travel. Bahkan, dalam mimpi pun harus bermimpi dalam bisnis ini. Kedua, branding diri sendiri sebagai ahlinya travel. Yakinkan diri Anda bahwa Anda adalah pakar untuk soal travel. Franchisee bukan sekadar pemilik yang ongkang-ongkang kaki. Ia juga mesti punya pengetahuan yang mumpuni mengenai tempat-tempat tujuan wisata, berbagai hal tentang traveling. Tunjukkan pribadi Anda sebagai pribadi yang siap membantu siapa saja yang memerlukan info seputar traveling. Ketika sudah tercebur dalam dunia bisnis travel sebagai owner yang sekaligus juga adalah operator, jangan pernah berpikir bahwa bisnis Anda akan sukses dengan sendirinya. Ini yang ketiga, yaitu terjunlah ke bisnis tersebut.

Berbagi Mimpi, Merajut Pemerataan

Dengan raut wajah agak serius, Anthonius Thedy mengungkapkan bahwa ada 10 agen travel yang menguasai 70 % pasar travel di Indonesia. Pada umumnya mereka hanya berlokasi di kota-kota besar saja. Cabangnya tidak terlalu banyak.

“Lalu di mana pemerataannya?” tanya Anthonius Thedy.

Menurutnya, terlalu mahal bagi mereka untuk melakukan ekspansi ke kota-kota kecil. Jika mengirim staf dari Jakarta, biayanya juga tidak murah. Siapa yang mau tinggal di Pulau Sumba dari Jakarta hanya untuk mengelola sebuah travel? “Tapi saya bertemu dengan seorang ibu yang memang lahir di Sumba, besar dan berbisnis di Sumba,” ujarnya.

Kisah di Sumba tersebut adalah akan dibukanya TX Travel Waikabubak, Sumba. “Ini adalah TX Travel yang ke-126,” katanya. Ia tidak mengira sebelumnya bahwa ia akan punya rekan bisnis di sebuah pulau kecil yang tidak ada agen travel dan jaringan internet. Ia memperkirakan dalam tempo sekitar satu minggu ini akan siap semua perangkat elektronik untuk akses internet. Di lokasi tersebut tidak ada sekolah pariwisata. Anthonius Thedy mengatasi keadaan itu dengan mengirim pelatih dari Jakarta. Pelatihan untuk tenaga kerja dilakukan selama satu bulan. Kemudian pelatihan dilanjutkan secara jarak jauh melalui internet. Hingga kota ke-41, metode ini cukup berhasil.

Keberhasilannya membuka berbagai cabang di banyak kota di Nusantara adalah bukti keseriusannya di bisnis ini. Dari sisi lain, ia mengakui keterbatasannya yang hanya punya dua tangan saja. Mustahil ia bisa melebarkan jangkauan TX Travel hingga ke daerah-daerah terpencil jika hanya mengandalkan dirinya sendiri. Ia pun membagikan mimpi-mimpi yang selama ini hanya ia sendiri yang memimpikannya. Ternyata tindakannya mendapatkan sambutan baik dari banyak orang.

Kini TX Travel menerima rata-rata sekitar 50 aplikasi setiap bulannya untuk menjadi franchisee. Dari jumlah itu, paling-paling yang terpilih menjadi franchisee hanya 1 aplikasi saja. Sangat selektif memang. Dan kita bisa katakan, Anthonius Thedy sepertinya tidak kejar target sebagai ukuran seberapa maju bisnis yang dikelolanya.

“Saya tidak kejar target,” demikian katanya. Ia melihat sekarang ini banyak pebisnis franchise yang tidak memperhitungkan banyak hal secara cermat. Siapa yang punya uang dan tertarik menjadi franchisee, silahkan saja. Lokasi bisa di mana saja. Pokoknya yang penting buka kantor, cabang baru. Anthonius Thedy justru semakin selektif dengan perhitungan yang cermat. Dari segi lokasi tempat harus memungkinkan beroperasinya TX Travel. Market juga harus ada di tempat itu. Dan tentu saja sumber daya manusia yang menjalankannya harus ada.

Segala perhitungan cermat tadi merupakan bagian dari tugas Anthonius Thedy. Ia sanggup bersusah payah mendatangi berbagai tempat yang hendak dijadikan kantor agen TX Travel. Survey pun ia lakukan untuk lebih mengenal potensi pasar di daerah tersebut. Ketika ditanya mengapa ia mau melakukannya, ia hanya menjawab, “Saya takut orang lain yang mewakili saya akan kejar target.”

Berbisnis Dengan Hati

Ada sebuah kalimat sakti di bawah nama “TX Travel” yang berbunyi, “ Hadir Untuk Melayani.”

Tagline ini secara meyakinkan menampilkan sisi lain dari dunia bisnis yang selama ini dijalankan Anthonius Thedy. Bersama para franchisee dan seluruh karyawannya, Anthonius Thedy menyuarakan kepada para konsumennya, “Terbang hemat, kami cari (tiket) dengan harga paling hemat.” Pernyataan itu sekaligus menunjukkan di mana posisi TX Travel.

Ia tidak mementingkan kursi mahal, interior kantor yang mewah. Jauh lebih penting adalah kepuasan konsumen yang membeli produk TX Travel, yaitu tiket pesawat, hotel, tur dan kapal pesiar. Mencarikan tiket murah untuk konsumen berarti berkurangnya pendapatan TX Travel yang diperoleh dari komisi penjualan. Tentunya ini cenderung memperkokoh TX Travel di kalangan tingkat menengah ke bawah. “Saya lebih suka travelnya adalah menengah ke bawah,” ujar pria yang hobinya makan-makan dan fotografi ini.

Keberpihakan kepada konsumen, menurutnya, justru memberikan efek berganda. Tidak hanya mendapatkan kepercayaan dan tempat di hati para konsumennya, namun sekaligus juga para konsumen akan menjadi ‘corong’ yang keras menyuarakan kualitas produk dan layanan TX Travel.

Ia bercerita, dahulu sering kali ia harus membantu konsumen yang kesulitan berangkat karena kejadian yang urgen. Terkadang ia harus berangkat ke bandara untuk mengurus tiket. Dulu tiket harus diisi sendiri dan diantar ke konsumen karena tiket adalah sebuah dokumen. Bagi si konsumen, hal ini adalah sebuah pertolongan yang berarti baginya. Sedangkan bagi Anthonius Thedy, kesibukan tersebut merupakan upayanya menjalankan bisnis. Pengalaman itu menjadi bukti nyata bisnisnya tidak dibangun dalam 1 malam saja.

Seratus Persen Untuk Konsumen

TX Travel bukanlah satu-satunya agen travel di Indonesia. Kehadiran agen travel lainnya memang memeriahkan dunia bisnis travel. Anthonius Thedy tidak melihat kenyataan ini sebagai melulu persaingan belaka. Persiangan, menurutnya, hanya akan menghabiskan energi kita karena energi kita harus terbagi antara melayani konsumen dengan para pesaing. Kiranya akan jauh lebih efektif jika konsentrasi dan energi seratus persen untuk konsumen.

Usaha keras selama bertahun-tahun memang diperlukan untuk mengembangkan suatu bisnis. Lelah, itu pasti. Namun di balik itu semua, ada hasil yang kelihatan. TX Travel menjadi gurita dengan jejaring kantornya di banyak kota. Kebesaran ini patut disyukuri. Untuk itulah Anthonius Thedy menggunakan kata “TX” di depan kata “Travel.” Mengapa? Karena kata “TX” (baca: thank you atau thanks) menjadi tanda syukur dan terima kasih kepada Sang Khalik atas kebaikan dan berkah dalam hidup ini.

tgh

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Focal Point Coaching
PAULISTA SHOES
MIS
AJ Bakery
www.elliessutrisna.com
Blomst
Wealthy Billionaire
Excellent Learning Center
PROLINK
Video Art Indonesia
HOTLINER
HDP
HOP HOP
Twitter EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
HDO
Scanie
Buku KOMPILASI
Prima Graphia
Media Prioritas
EXCELLENT BUSINESS MAGZAvailable Space