
Siapa bilang jadi pengusaha sukses itu perlu waktu dan proses yang panjang. Jika demikian adanya, maka kesuksesan baru bisa dicecap ketika rambut mulai beruban. Kesuksesan yang dicapai seorang pebisnis bisa diketahui dari sejauh mana bisnisnya berkembang, berapa

jumlah outletnya, berapa besar omset yang diperolehnya.
Berbicara tentang proses menuju sukses dan kesuksesan itu sendiri bisa jadi menciutkan Anda yang hendak memulai suatu bisnis. Hal ini tidak berlaku bagi seorang Hendy Setiono. Seorang Hendy yang masih muda sudah berani terjun ke dunia bisnis franchise. Kini setiap orang yang berbicara tentang kebab, pasti bicara pula tentang Hendy Setiono. EXCELLENT berkesempatan berbincang dengannya via surat elektronik. Berikut adalah perbincangan kami.
Apakah Anda memang bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses seperti saat ini?
Menjadi pengusaha…Profesi yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Pada saat masih kecil, saya mempunyai cita-cita yang hampir semua anak di dunia ini mencita-citakannya. Menjadi seorang insinyur. Kebetulan ayah berprofesi sebagai seorang insinyur yang bekerja di Qatar. Dan itu menjadi salah satu latar belakang saya memilih jurusan Teknik Informatika di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini.
Dahulu bercita-cita mau jadi insiyur. Mengapa sekarang jadi entrepreneur?
Namun itu semua berubah setelah saya menginjak semester IV. Menginjak semester tiga, idealisme saya untuk membiayai hidup saya sendiri mulai tumbuh. Ini karena saya melihat orang tua saya yang mulai “kepayahan” untuk membiayai saya dan adik saya yang bersekolah. Saya memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Namun hal ini tidak diketahui oleh kedua orang tua saya. Banyak jenis pekerjaan yang pernah saya lakukan. Mayoritas pekerjaan pada saat itu masih bersifat paruh waktu. Kegiatan saya semakin padat karena saya mulai mengikuti seminar-seminar kewirausahaan yang diselenggarakan di Surabaya. Keinginan saya untuk menjadi pengusaha seolah mendapat restu dari Tuhan. Pada liburan semester, saya diajak ayah saya untuk menemani beliau bekerja di Qatar. Di negara itulah, saya menemukan senjata saya dalam memulai bisnis. Yup.... KEBAB, makanan khas Timur Tengah yang rupanya sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat di sana. Ide ini timbul karena selama saya hidup, saya tidak pernah menemukan jenis makanan tersebut. Dan bak gayung bersambut, penjual kebab tersebut bersedia mengajari saya untuk membuat makanan tersebut. Setelah saya pulang ke Surabaya, saya mulai mencoba-coba sendiri untuk membuat kebab. Dan lagi-lagi, lingkungan seolah mendukung ide saya ini. Saya menemukan penjual kebab di Surabaya dan beliau bersedia untuk menjadi guru saya.
Setelah berguru, Anda berani menguji ilmu memasak Anda dengan menjual kebab buatan sendiri? Bagaimana dengan modal awal?
Setelah dianggap mampu, saya mulai mencoba membuka outlet kebab pertama saya. Karena belum punya modal, saya terpaksa melakukan “lobi-lobi” kepada saudara-saudara saya. Dan dari lobi-lobi tersebut, saya berhasil mengumpulkan dana sebesar 4 juta rupiah. Dana tersebut saya konversi menjadi outlet kebab pertama saya. Sekedar informasi tambahan, outlet kebab pertama saya sangatlah sederhana. Outlet kebab saya dominan warna putih dan bentuknya sangat konvensional sekali. Namun saya tetap percaya diri terhadap kondisi tersebut. Saya mulai menyewa satu lahan sebagai tempat saya berjualan. Dan sejak saat itulah status saya berubah menjadi mahasiswa penjual kebab.
Kebab bukan jenis makanan yang populer saat itu di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Apa pengalaman unik Anda ketika menjalankan bisnis tersebut?
Ternyata menjadi seorang pengusaha memang tidak mudah. Saat saya memulai usaha ini, saya langsung menghadapi kendala yang memang belum pernah saya perhitungkan sama sekali. Banyak orang yang berkunjung ke outlet saya berpikir bahwa saya adalah penjual martabak atau terang bulan. Ini rupanya akibat desain outlet yang saya buat hampir menyerupai desain outlet martabak atau terang bulan pada umumnya. Dan saya menutup hari pertama dengan hanya menjual 3 kebab. Dan masih banyak pengalaman-pengalaman pahit lainnya. Tentu saja saya terus belajar dari pengalaman-pengalaman pahit tersebut. Dan Alhamdulillah, pengalaman-pengalaman pahit tersebut membuat saya semakin dewasa dalam menghadapinya. Sistim yang saya ciptakan semakin sempurna akibat pengalaman-pengalaman pahit yang saya rasakan.
Apa yang Anda peroleh dari pengalaman dan proses yang Anda jalani?
Jadi kata kunci pertama yang ingin saya share dengan rekan-rekan semua ialah “Experience make you better.” Pengalaman-pengalaman tersebut membuat kita belajar agar pengalaman pahit tersebut tidak terjadi lagi pada kita. Selain itu, lakukan sekarang juga apa yang menjadi idemu. Terkadang ketika Anda mencetuskan sebuah ide, di satu menit pertama Anda merasa semangat dengan degup jantung yang berdebar-debar karena telah menemukan sesuatu yang unik atau baru, tetapi setelah 4 menit kemudian, Anda merasa pesimis terhadap ide tersebut karena mulai terpikirkan tentang modal, pemasaran, bagaimana bila tidak diterima masyarakat, bagaimana bila gagal, bagaimana bila kemudian ternyata sudah ada saingannya, dan bila-bila yang lain. Hal itulah yang kemudian membuat para pemikir-pemikir hebat seperti Anda sekalian tidak jadi melanjutkan ide Anda tadi, padahal semua yang Anda takutkan itu belum tentu terjadi dan bahkan kemungkinan ketakutan Anda tersebut adalah salah!! Selama ini, saya selalu mencoba untuk berpikir positif, dan coba merealisasikan ide saya. Walau memang tidak serta merta hal tersebut harus dilakukan dengan tergesa-gesa, tetap harus ada usaha untuk melakukan perhitungan-perhitungan, pengandaian terhadap situasi-situasi ke depannya, dan sharing dengan rekan bisnis lainnya. Hal terpenting adalah Anda tetap melanjutkannya dengan hati-hati dan terkendali. Anda tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan, berhasil tidaknya ide Anda juga bergantung pada usaha Anda dan tentunya ridho Tuhan Yang Maha Esa. ***


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more