
Kamis, 8 April 2010, pk. 19.20. EXCELLENT menghubungi James Gwee via layanan pesan singkat. Tak lama kemudian masuklah pesan balasan dari James yang menyatakan kesediaannya untuk bertemu.
Jumat, 9 April 2010, pk. 14.30. EXCELLENT bert

emu dengan James di salah satu gedung di Jakarta. Saat itu sebetulnya James sedang membawakan seminar. Di sela-sela jadwalnya yang padat, ia menyempatkan dirinya untuk menemui EXCELLENT.
Siang itu, James keluar dari ruang seminar dengan sepasang alat pengeras suara di kepalanya. Sembari menghampiri kami, James berupaya melepas alat tersebut. Kami hanya punya waktu bertemu siang itu. Esok hari ia harus berangkat ke luar kota. Padatnya jadwal kerja dan penyempatan waktu untuk bertemu di sela-sela seminar sudah cukup untuk menunjukkan betapa sibuknya James.
Pertemuan singkat itu meninggalkan kesan tersendiri kepada kami. Ada begitu banyak hal yang terungkap dari penuturan James yang membuat kami terkesima. Seperti apakah kisah hidup dan perjalanan karirnya? Bagaimana ia berpikir dan bertindak? Apa yang menyemangatinya untuk meniti karir sebagai seorang pembicara di seminar-seminar?
Sebuah Awal: Lembaga Kursus Komputer
James Gwee telah mengecap rasa kesuksesan di negerinya, Singapura, pada tahun 1988. Setelah menyelesaikan studi di bidang teknologi informasi, ia mendirikan sebuah lembaga kursus komputer. Keputusannya ini sangat berbeda dari teman-teman kuliahnya yang mendalami dunia teknologi informasi sebagai praktisi.
Berawal di tahun 1986, ia berjuang mendirikan dan mengembangkan sebuah lembaga kursus komputer. Dalam jangka waktu tidak terlalu lama, dua tahun kemudian, lembaga kursus yang ia dirikan berkembang pesat. Rentang waktu dua tahun telah menumbuhkan lembaga itu menjadi tujuh cabang dengan jumlah guru sekitar seratus orang. Waktu itu setiap minggunya ada empat ribu orang yang mengikuti kursus komputer di lembaga tersebut.
Suatu ketika ia bertemu dengan seseorang dari Indonesia yang sedang mencari lembaga kursus komputer di Singapura. Pertemuan itu menjadi awal kerja sama mereka di bidang pendidikan komputer.
Tahun 1988, lembaga kursus yang dikelolanya menjadi sebuah franchise. Saat itu, akhir tahun 80-an, jumlah franchise belum banyak seperti sekarang. Pada 1989, franchise yang dikelola James adalah salah satu franchise pertama dari Singapura yang masuk ke Indonesia.
Praktis, ia harus menjejakkan kaki di Indonesia. Kedatangannya waktu itu adalah sebagai franchisor yang hendak menggandeng franchisee di Jakarta.Ia mencari siapa saja yang berminat bekerja sama. Alhasil usahanya menampakkan hasil setahun kemudian. Pada tahun 1990, franchaiseenyatelah membuka lembaga kursusnya di Jakarta (2 cabang) dan Surabaya (1 cabang).
Prestasi itu telah menempatkannya pada posisi mapan. Namun siapa sangka bahwa James melihat betapa Indonesia adalah sebuah negara yang amat menarik? Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang menjanjikan untuk dirinya berkembang seiring dengan berkembangnya Indonesia. Ia melihat begitu banyak potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Jumlah penduduk yang besar menunjukkan besarnya sumber daya manusia selain kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia.
Yang terjadi kemudian adalah, James menjual seluruh sahamnya di franchise lembaga kursus komputernya di Singapura. Ia melepas segala hasil jerih lelahnya yang telah ia rancang, bangun, kelola dari awal mula. Pada 1990, James berada di Jakarta tanpa kenal seorang pun. Tanpa relasi bisnis. Saat itu ia masih muda. Lantaran pernah mendirikan sebuah lembaga kursus komputer, maka di Jakarta ia bekerja sebagai seorang konsultan lembaga pendidikan. Ada sesuatu yang spesial di dalam tiap proses konsultasi yang ia kerjakan. Ia memberikan akreditasi dari Inggris bagi lembaga pendidikan yang berkonsultasi dan ikut pelatihan. Sayangnya, saat itu masih belum banyak lembaga kursus di Jakarta yang berorientasi pada akreditasi dari luar negeri. Selain itu, tidakbanyak di antara lembaga kursus tersebut yang berpikiran perlu mengembangkan layanan kursus dengan ikut pelatihan-pelatihan bagi karyawan atau tenaga pengajarnya. Dari segi finansial, banyak lembaga kursus yang belum mampu membayar seorang konsultan secara profesional. Fee bagi konsultan hanya sejauh kemampuan lembaga kursus. James menjalani profesi ini selama dua tahun.
“Cerai” dari Jaguar, Mulai Perjalanan Baru
Selama berprofesi sebagai konsultan, praktis James melepas segala fasilitas, kemudahan yang sebelumnya ia peroleh. Niat merantau di negeri seberang membuat James harus hidup mandiri. Kendaraannya, Jaguar, yang di Singapuratidak bisa ia pertahankan. Hingga suatu ketika hendak mengisi bensin, ia hanya menemukan uang berjumlah Rp. 20.000,00. “Isi bensin dengan uang Rp. 20.000,00 waktu itu quite bad, lho ya!,” ucapnya dengan logat khas melayu.
James mengatakan, “orang selalu bilang bahwa positifnya orang muda yaitu berpikir positif dan optimis.” Melepas saham itu memang sayang sekali karena lembaga itu dibangun dari nol. Namun, Indonesia lebih exciting dan lebih menjanjikan di mata James. Waktu itu tidak banyak pikiran yang muncul jika ia gagal. James mengakui bahwa dirinya adalah pribadi yang optimis. “Jika ini gagal, maka tidak pernah merasa gagal. Yang dipikirkan adalah jalan keluar, mencari masalah dan mencari solusi,” tuturnya dengan bersemangat.
James melihat bagaimana lembaga kursus yang ada di Jakarta beroperasi. Lembaga-lembaga kursus itu menerima calon pelanggan. Ketika menerima telepon dari para pelanggan atau calon pelanggan, mereka hanya menjawab sekadarnya. Tidak ada etika bertelepon. Saat menerima keluhan pelanggan, mereka tidak menanganinya dengan teknik yang benar.
James tidak bisa hanya melihat fenomena ini begitu saja. Ia melihat perlunya sebuah pelatihan (training) bagi para karyawan, guru di lembaga-lembaga kursus itu. Ia semakin dimantapkan ketika salah seorang temannya menganggap pelatihan yang diadakan James itu menarik. Maka mulailah James mengadakan pelatihan kepada lembaga kursus atau perusahaan. Meski belum berani beriklan, James mulai dengan menawari perusahaan-perusahaan di sekitar tempat tinggalnya. Tiap kali pelatihan, James mengakui bahwa saat itu peserta pelatihannya berkisar antara delapan hingga tujuh belas orang saja. Jika tiap seminarnya dihadiri oleh sekitar dua puluh lima orang, maka seminar itu bisa dianggap mengagumkan. Ia mengadakan pelatihan-pelatihan ini selama satu setengah hingga dua tahun.
Hingga suatu ketika, James ditawari oleh salah seorang peserta pelatihan yang bekerja sebagai marketing executive di radio PAS Fm, sebuah radio yang berfokus pada bidang bisnis. James ditawari untuk membawakan sebuah acara bincang-bincang (talk show) di radio tersebut setiap minggunya. Ia menyambut tawaran itu dengan sepenuh hati. Inilah yang menjadi jejak langkah berikutnya menuju jenjang yang lebih tinggi dalam karir James.
Kisah Hidup di Mata James Sekarang
Sejarah kehidupan seorang manusia selalu menguntit setiap jejak langkah kakinya. James begitu mudah dan lancar berkisah tentang hidupnya di masa lalu. Ia bercerita tentang masa mudanya ketika hendak memilih jurusan di perguruan tinggi. Usia dua puluh tahun, usia menjelang dewasa, namun masih diwarnai keceriaan remaja. Orang tua memberi pertimbangan, bidang yang akan berkembang pesat di tahun-tahun mendatang adalah bidang teknologi, komputer. Kalau mau sukses, pelajari ilmu komputer. Komputer itu masa depan. “Masuk akal juga,” ucapnya.
Nilai hasil belajar di sekolah menengah memadai. Orang tua menyetujui, bahkan menyarankan ilmu komputer. James membulatkan tekadnya mendalami ilmu komputer sebagai bagian dari teknologi informasi. Selepas kuliah, banyak di antara teman-temannya yang bekerja sebagai programmer, system analist. Tapi ia justru memilih membuka kursus komputer. Sasarannya adalah sekolah-sekolah. Sering kali ia diminta memberi pelatihan-pelatihan di sekolah. Mau tidak mau, ia mesti berhadapan dengan kepala sekolah yang umumnya telah berusia lanjut. Sedangkan James sendiri saat itu masih berusia dua puluh dua tahun.
Merantau ke negeri tetangga, ia berprofesi sebagai konsultan bagi lembaga-lembaga kursus. Mulai dari mengadakan pelatihan-pelatihan hingga membawakan acara bincang-bincang di radio, ia terus menjalani pekerjaannya sepenuh hati. Semua mengalir begitu saja.
Kini, James melihat semua pengalaman hidup dan karirnya secara lebih reflektif. Jejak langkah hidupnya telah menampilkan apa yang ia sebut sebagai kepribadian (personality). Baginya, setiap pekerjaan, profesi yang dilakukannya menunjukkan pribadi macam apa yang ada di dalam dirinya. Ia sedang berbagi pengetahuan. Ia menikmati kebahagiaan manakala mengetahui orang lain sukses. Profesi sebagai guru komputer, konsultan, pembicara di seminar atau pelatihan-pelatihan sungguh ia nikmati. Itu semua adalah aktivitas mengajar. Dan ia mencintai apa yang dilakukannya. “Sama seperti yang dikatakan oleh Bu Ellies, ‘love what you do, do what you love,’” ujarnya sembari menunjukkan artikel tentang Ellies Sutrisna di majalah EXCELLENT edisi April 2010. Ia mengakui bahwa ia memiliki kepribadian seorang guru.
Makna Kehidupan
“Saya pernah mengalami masa sulit,” kata James. Ketika sedang berada di posisi puncak, ia melepasnya. Ia pun mulai meniti dari bawah lagihingga saat ini ia kembali berada di puncak. Pengalaman hidup itu memberikan keberanian bagi dirinya untuk mendorong orang lain untuk maju. Pengalaman hidup pula yang membuatnya memiliki wewenang moral (moral authority) untuk membantu sesamanya meraih segala kebaikan hidup. Dengan berbagi pengalaman, refleksi atas kehidupan, ia “nge-push” setiap orang yang mengikuti seminar-seminarnya. Ia berani berbicara secara lantang dan penuh daya. “Kalo saya bisa, maka Anda juga bisa!” ucapnya penuh semangat.
James sudah pernah merancang sebuah bisnis. Ia juga pernah keluar dari kesulitan hidup. Menjual produk dan dirinya, pernah pula dilakukannya. Mengembangkan bisnis juga sudah dilakoninya. Kini, ia memasuki sebuah tahap dalam karirnya di mana ia tidak mau semua order berpusat pada dirinya saja. Selama lima tahun terakhir ia sudah menerima order secara terus menerus. Ini semua menyenangkan baginya, sekaligus juga melelahkan.
Sekarang ia sedang menjalankan sebuah rencana. Ia membentuk sebuah tim pelatih yang bermutu. Fasilitas pelatihan yang sederhana namun cukup mendukung jalannya pelatihan. Metodologinya jelas. Harapannya, konsep pelatihan semacam ini akan membuka akses bagi perusahaan-perusahaan yang baru berkembang untuk meningkatkan kualitas kinerja perusahaan. Ia menamakan pelatihan macam ini ‘budget training.’ Pelatihan ini adalah bagian dari sebuah proyek yang digagas oleh James, yaitu Budget Training danJames Gwee School of Sales.
Teknologi Informasi: Mengagumkan!
Latar belakang di bidang teknologi informasi (TI) memang sangat berbeda dengan apa yang dikerjakannya saat ini. Namun bukan berarti ia tidak meninggalkan dunia TI begitu saja. Pengalamannya belajar TI di bangku kuliah justru memungkinkan dirinya untuk mengerti prinsip kerja berbagai jenis teknologi muktahir. Ia mengetahui apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin bagi suatu teknologi tertentu. Mengapa? Karena ia paham secara prinsip kerja, logika yang berlaku di balik kecanggihan teknologi.
“IT (information technology) menjadikan segala hal mengagumkan, exciting,” ujarnya dengan mata berbinar-binar. Menurutnya, IT sudah jadi alat sosialisasi (social tool), alat hibur (entertainment tool), alat berbisnis (business tool). Kini tapal batas area sosialisasi, hiburan dan bisnis sudah tidak jelas lagi. Sering kali kita menemukan fenomena beriklan melalui hiburan. Permainan digital tidak sekadar hiburan, tapi sekaligus juga iklan.
Masa depan: tidak mungkin berjalankan bisnis tanpa IT. Seperti abaikan pesawat ke Semarang, tapi malah naik sepeda.
Bisnis dan Teknologi Komunikasi Informasi:
Menurut James, bisnis tidak luput dari decision-making. Keputusan yang diambilnya mesti berdasarkan pada berbagai informasi. Hanya dengan teknologi, kita lebih dimungkinkan untuk mengumpukan informasi yang lebih luas dan lebih cepat. Dengan demikian, kita akan mendapatkan informasi yang kualitasnya baik dalam waktu yang lebih cepat. Ini semua karena teknologi informasi.
Ketika kita membuat keputusan yang baik berdasarkan informasi yang berkualitas, kita berada selangkah di depan pasar (market). Kemajuan yang kita raih disebabkan oleh teknologi yang memungkinkan kita mendapatkan informasi terbaik. “Ini semua tentang kualitas keputusan,” kata James.
Teknologi jelas sangat berguna bagi kita di zaman sekarang. Teknologi seperti internet bisa membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Ketika menemui kendala di lapangan, kita bisa mencari beragam jawaban, solusi di dunia maya. Melalui kecanggihan teknologi komunikasi, kita bisa bertanya kepada kerabat, relasi, teman, keluarga. Teknologi memperluas jangkauan komunikasi kita. Kita bisa menjalin jaringan kerja untuk bisnis kita.
Hanya dengan jaringan relasi yang luas, maka kita punya banyak pilihan siapa saja yang berpotensi. Cara seperti ini amat berbeda dengan cara konvensional, yaitu “door to door.” Menghampiri calon pelanggan di tempat tinggalnya hanya akan memakan waktu lama dan energi. Lain halnya jika kita menggunakan teknologi komunikasi. Kita cukup mengirim surat elektronik, pesan di situs jejaring sosial. Sebelum mengirim, kita tahu siapa saja yang berpotensi dan yang kurang berpotensi. Kita sudah menyaring calon pelanggan terlebih dahulu. Setiap orang yang kita beritahu akan bisa mengirim pesan kita ke jaringan relasinya. Jika sudah demikian, kita hanya tinggal menunggu pesanan (order).
Begitulah perbedaan cara berpikir, pola pikir abad 21 dengan pola pikir pra-abad 21. Ibarat kita hendak pergi ke Semarang. Kita bisa mengayuh sepeda menuju Semarang. Tapi mau sampai berapa lama? Berapa banyak energi yang terbuang? Kita bisa lebih cepat tiba di Semarang jika menggunakan pesawat terbang. Tidak memakan waktu banyak. Kita bisa lebih efisien dan efektif.
Rasa Ingin Tahu dan Teknologi Komunikasi Informasi :
Menurut James, Indonesia itu sangat potensial. Sayangnya, banyak orang yang hanya hidup dalam ruang lingkup tempat tinggalnya saja. Cakrawala berpikirnya pun sebatas apa yang telah ia alami, ketahui. Kita perlu melangkah keluar dari zona amandan nyaman yang telah ada selama ini. Kita perlu memperluas cakrawala berpikir kita.
Bagaimana caranya?
Kita bisa gunakan teknologi untuk mencari tahu tentang berbagai hal. Kita hanya tinggal mengetik kata yang ingin kita cari tahu dan klik! Kita akan mendapatkan banyak jawaban, referensi dalam hitungan detik. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan, “Tidak tahu.” Yang ada hanyalah orang yang tidak punya keinginan untuk mencari tahu. Hanya dengan mencari dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, maka kita akan meraih kesuksesan. Kesuksesan tidak ditentukan siapa nenek moyang kita. Bukan pula karena pendidikan tinggi yang kita jalani. Kesuksesan disebabkan oleh faktor seberapa besar keingintahuan kita terhadap informasi.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more