Highlight

Arzetti Bilbina: Dari Busana Hingga Sekolah

 

Sore itu di salah satu mall di Pluit. Suasana tidak seramai akhir pekan. Di salah satu sudut mall tampak seorang wanita cantik sedang duduk di kursi salah satu kafe di sana. Tidak ada yang mencolok dari penampilannya. Namun itu tidak menyangkal adanya daya

Arzetti Bilbina: Dari Busana Hingga Sekolah

tarik tersendiri bagi siapa pun yang memandang dirinya.

 

Masyarakat umumnya mengenali wanita kelahiran Lampung, 4 September 1974 ini sebagai seorang model senior di Tanah Air. Kini ia tidak lagi sekadar menggeluti dunia model dan hiburan (entertainment). Sejumlah usaha di luar dunia hiburan telah ia jalani beberapa tahun terakhir ini. Arzetti Bilbina Collection adalah usaha miliknya yang menjual busana muslim. Selain itu, ia juga bekerja sama dengan ibu serta mertuanya dalam bisnis yang dinamainya Batik Gendis. Tidak cukup menggeluti dunia fashion, Arzetti, juga bekerja sama dengan mertuanya, membuka sebuah salon bernama Griya Truly Salon. Pengalamannya di bidang modeling telah membekalinya untuk mumpuni membuka sebuah sekolah modeling di Jakarta. Namanya Gala Zema School. Sekolah ini lebih populer dengan sebutan Gazes. Di sekolah ini, para siswa dapat menemukan pilihan kelas yang hendak digeluti, yaitu kelas akting, kelas presenter, kelas model anak-anak dan kelas model remaja.

Bagaimana ia menjalani beragam bisnis tersebut? Apa yang menyemangatinya untuk menekuni bisnis busana muslim dan sekolah modeling? EXCELLENT berkesempatan menemuinya di tengah-tengah kesibukannya mengikuti acara pagelaran busana di salah satu mall di Pluit.

Menekuni yang Telah Dikenali

Popularitas sebagai bintang model senior Indonesia ternyata tidak cukup silau bagi Arzetti. Ia tidak menutup mata bagi bidang lainnya di luar gemerlapnya dunia hiburan. Terlebih, pengalaman hidup bersama orang tua yang berprofesi sebagai pedagang telah memberikan pengalaman dan pengetahuan berharga perihal dunia bisnis. Lahir sebagai bagian dari keluarga pedagang membuatnya menjadi paham bagaimana menjalankan usaha dagang.

Istri dari Aditya Setyawan ini menyadari bahwa mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Menurutnya, ini adalah sebuah segmen pasar yang berpotensi. Ia sendiri berharap, setiap orang yang berbusana muslim bisa berpenampilan baik dan trendi. Namun penampilan yang seperti itu tidak mesti mahal.

“Saya sendiri sebagai perempuan Indonesia yang berada di dunia fashion ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat muslim,” ujarnya.

Bisnis busana tersebut tidak ia jalankan sendirian. Ia bertugas membuat rancangan busana, lalu proses produksi ia serahkan kepada para penjahit. Setelah itu ia harus menjualnya kepada para pelanggannya. Berbagai produknya ia sebar melalui para distributor yang mengambil produk di tempat usahanya. Sistem yang ia pakai adalah sistem kemitraan.

Calon mitra cukup membeli setidaknya lima model busana muslim sebanyak satu kodi untuk setiap modelnya. Maka jadilah Anda sebagai mitra bisnis Arzetti Bilbina Collection. Kini para agen mitranya telah tersebar ke kota-kota besar seperti Makasar Palembang dan  Bandung. Hingga saat ini Arzetti melihat sambutan pasar terhadap produknya cukup baik.

Sekolah: Kesempatan yang Setara Bagi Siapa Pun

Di luar bidang fashion, Arzetti membuka sebuah sekolah modeling yang dinamainya Gala Zema School. Lembaga pendidikan modeling ini ia dirikan bersama rekannya, Jamal Hasan. Sejauh ini sekolah modeling yang dikelolanya telah berjalan sekitar lima tahun. Selain Jakarta, Gazes telah membuka cabang di Bandung, Yogyakarta dan Makasar.

Awal April lalu anak didiknya telah diwisuda di Bandung. Acara wisuda bagi ketujuh puluh siswa Gazes berlangsung di Golden Flower Hotel. Mereka telah menjalani masa pendidikan selama tiga bulan. Arzetti mengakui, jumlah anak didiknya yang ada di Jakarta sendiri telah berjumlah sekitar seribu siswa.

Selebriti yang bernaung di dalam Zema Management Artist ini berpendapat, lebih baik jika anak muda saat ini masuk ke sekolah (modeling) karena pesaingan semakin ketat. “Keadaan saat ini beda sekali dari zaman dulu yang belum ada sekolah modeling,”ujarnya. Dahulu siapa pun yang hendak menjadi model harus belajar sendiri atau otodidak. Sekarang ini persaingan luar biasa. “Apa lagi sekarang ini banyak yang berpostur tinggi, cantik. Yang indo juga ada,” akunya. Sekarang sudah ada pasar bebas. Lebih baik kita punya bekal lebih dulu, baru kemudian bertempur. “Kalo dulu ‘kan bertempur sambil belajar. Jadi ‘gak ada persiapan dulu,” ujarnya sembari mengingat pengalaman masa lalunya.

Persaingan sudah pasti ada. Namun Arzetti melihat persaingan yang ada saat ini jangan dianggap sebagai persaingan saja. Persaingan harus dilihat sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya, banyak potensi yang berada di daerah (luar Jakarta). Hanya saja sumber daya manusia yang kurang memberikan yang terbaik karena tidak ada pendidikan. Arzetti bermimpi, seluruh anggota masyarakat bisa sama, general dalam berjalan, dalam berekspresi. Ia berharap setiap orang bisa membawakan sikap tubuh yang baik dan elegan. Maka untuk mewujudkan mimpi itu ia membuka sekolah modeling yang mengajarkan bagaimana cara bersikap yang baik di hadapan orang lain.

Wanita yang telah menjadi ibu bagi Bagas Wicaksono Rahadi Setyawan, Dimas Aryo Baskoro Rahadi Setyawan dan Gendis Setyawan berpandangan bahwa animo masyarakat saat ini cukup besar di dunia hiburan. Menurutnya, sekarang ini banyak orang yang ingin menjadi seseorang di dunia hiburan. Apalagi saat ini banyak wadah, kesempatan dari stasiun televisi yang membuka peluang itu. Untuk itulah ia merasa perlu untuk membuka akses  kepada peluang itu bagi mereka yang berminat mendalami dunia hiburan, yaitu dengan membuka sekolah modeling.

Kenali Bisnismu dan Jangan Terjebak Dalam Persaingan

Ketika kita hendak masuk dan mendalami suatu bidang, akan lebih baik jika kita mengenal seluk beluk mengenai bidang tersebut. Prinsip ini berlaku pula bagi mereka yang hendak berkecimpung dalam dunia bisnis, seperti halnya Arzetti. Menurutnya prinsip ini sungguh berguna sekali. Kita harus berbisnis dalam bidang yang telah kita pahami dahulu. Sehingga ketika menjalani bisnis, kita tidak lagi harus mencari-cari informasi tentang bisnis kita.

Arzetti merasa beruntung sekali bisa menjalankan bisnis di bidang fashion, khususnya busana muslim bagi kaum wanita. Ia merasa telah mengenal betul bisnis ini karena ia telah mendapatkan ‘ilmu’berdagang dari orang tuanya. Ia sungguh  menunjukkan bahwa pengalaman hidup adalah guru yang paling berharga. Maka tidak berlebihan jika mengatakan bahwa di dalam diri Arzetti telah hidup naluri berdagang.

Tiap kali menekuni suatu pekerjaan, tidak jarang kita akan menemui hambatan. Rintangan-rintangan yang muncul bisa berupa persaingan di antara para kompetitor. Menurutnya, persaingan yang ada jangan sampai menghambat kemajuan dan perkembangan kita. Jangan sampai persaingan yang kita hadapi menjadi jebakan yang mengungkung kita. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana menemukan solusi agar kita bisa berkembang.

Perbincangan sore itu bersama seorang Arzetti Bilbina seperti ngobrol dengan seorang pebisnis. Ia tampak sungguh memahami dunia bisnis fashion busana muslim yang ia jalani. Ia sendiri berharap semoga saja bisa terus menjalani dua dunia yang telah ia geluti selama bertahun-tahun. “Niatnya sih, ingin beribadah sambil menjemput rezeki,” ujarnya secara singkat.

tgh

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Focal Point Coaching
PAULISTA SHOES
MIS
AJ Bakery
www.elliessutrisna.com
Blomst
Wealthy Billionaire
Excellent Learning Center
PROLINK
Video Art Indonesia
HOTLINER
HDP
HOP HOP
Twitter EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
HDO
Scanie
Buku KOMPILASI
Prima Graphia
EXCELLENT BUSINESS MAGZAvailable Space