
Kondisi ideal adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh siapa pun. Hal serupa juga bisa kita temui di bidang bisnis. Bagi sebagian orang, berbisnis sebaiknya dimulai dari persiapan matang yang seideal mungkin. Tapi apakah meski demikian adanya? Sering kali kondisi riil sangat b

erbeda dari rencana.
Endra Tan, pemilik sekaligus Managing Director AJ Bakery, memberi jawaban bagi pertanyaan tersebut. Tahun 1990, Endra Tan datang ke Jakarta dengan membawa impian membangun sebuah bisnis di Jakarta. Pengalamannya mengelola bisnis di bidang food & beaverage ketika menjalankan bisnis keluarganya, AJ Biskuit, menjadi bekal yang mumpuni. Namun dari segi permodalan yang terbatas, ia harus memikirkan rencana terbaik bagi bisnisnya. Ditemui di kantornya di bilangan Kelapa Gading, pria kelahiran Medan ini menceritakan pengalamannya membangun AJ Bakery.
***
Apa dasar ketertarikan Anda terhadap bisnis bakery ini?
Memang saya dari dulu senang dengan makanan. Dan saya juga sangat suka riset. Saya memang selalu melakukan studi perbandingan sebagai ukuran hasil produk kamiharus lebih baik dari kompetitor,baik dari segi kualitas dan segi harga, varian. Saya melihat belum begitu banyak pebisnis di bidang bakerydan bakery itu bisa diterima secara universal. Jadi semua kalangan bisa makan bakery dan waktu itu sudah jelas roti tidak bisa mati karena sejarah roti sudah ratusan tahun. Juga merupakan makan pokok kedua setelah nasi,sepertisarapan, untukmeeting, dan hampir semua orang harus berhubungan dengan bakery atau roti.
Apa produk pertama Anda yang menjadi penjualan terbaik?
Produk awal masih tetap, nomor satu adalah roti coklat dan kedua adalah keju. Tetapi ketika ada yang menawarkan roti abon dengan cita rasa yang Indonesia, yaitu sangat gurih, cukup rich,AJ Bakery membuat roti abon. Abon itu adaspesifikasiabon ayam, sapi, ebi. Ternyata roti abon ini sangat disukaiconsumer. Sehingga ia mengalahkan roti coklat dan keju, dan menjadi best seller.
Ada perbedaancita rasa diTaiwan dibandingkan dengan diIndonesia. Di Taiwan cenderung rasanya plain, tidak begitu manis.Sedangkan di Indonesia cita rasanya lebih manis, tapi tidak manis sekali. Jadi kita bicara tentang lidah Indonesia. Orang Indonesia itu lebih maunya sesuatu yang cukup rasanya lebih kuat, strong. Ya kamisharus pakai butter yang berkualitas seperti Korman.
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di EXCELLENT BUSINESS MAGZ Edisi Februari 2012


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more