
Ditemui di kantornya yang berada di daerah Cileungsi, Direktur PT. Tritunggal Widjaja Primula, Pramudhya K. Wijaya menuturkan bagaimana ia menstabilkan dan memperbaiki kinerja perusahaan tersebut. Dari yang sebelumnya tahun 2007 dalam kondisi minus dan ‘p

endarahan’, di tahun 2010 sudah mencapai kondisi stabil dan menghasilkan profit.
Pramudhya, seorang pengusaha muda yang meneruskan bisnis keluarga di bidang surface finishing alumunium, bisa jadi salah satu pengusaha muda yang menerima ‘warisan’ bisnis yang bermasalah. Namun dari tangan dinginnya, ia berhasil mengubah kondisi tersebut menjadi kondisi yang lebih stabil dan mencetak profit. Tidak hanya itu. Dari segi manajemen dan sumber daya manusia juga kini lebih tertata rapi dan terstruktur.
Ia membenarkan pikiran sang ayah, bahwa memiliki perusahaan itu ibarat punya anak. Meski dalam kondisi cacat, pasti akan diusahakan semaksimal mungkin untuk bisa bertahan hidup. Tapi kalau dalam perjalanan, anak ini mati karena cacatnya tersebut, kenyataan itu harus diterima karena kematian tersebut bukan salah orang tua. Bukan berarti melempar tanggung jawab. Namun dalam upaya mempertahankan kehidupan si anak itu sendiri merupakan sebuah keinginan (will) yang harus dijalani.
Kondisi perusahaan saat Pramudhya masih studi di Newcastle, Inggris, sungguh memprihatinkan. Produktifitas sangat rendah dan tidak mampu menutup biaya produksi. Sang ayah memanggil Pramudhya untuk kembali ke Jakarta dan membantu perusahaan ini. “Ok, saya ambi alih perusahaan ini. Tapi saya pegang sepenuhnya, tidak ada intervensi,” ujarnya kala itu.
Menyadari kondisi yang sedemikian sulit, Pramudhya tidak mau memasang target muluk-muluk. Ia hanya berharap agar kondisi perusahaan dapat stabil dan survive secepatnya.
Ketika menempuh pendidikan di Inggris, Pramudhya membuat disertasi bertema kreativitas yang mendukung competitive advantage. Ini yang menjadi bekal baginya untuk membuat perusahaan ini dapat bertahan hidup. Dalam disertasi itu, Pramudhya berpendapat bahwa api dalam sebuah bisnis adalah kreativitas. Ia mendefinisikan kreativitas sebagai proses pembelajaran dan mencari solusi. Mendapat tanggung jawab yang tidak mudah tersebut, ia berpikir bahwa inilah kesempatan untuk membuktikan teori yang ia dalami di disertasinya. Mulai dari membuat business plan dan mengaplikasikannya dalam manajemen perusahaan, hingga ia ‘meninggalkan’ perusahaan di tahun 2009 sebagai ujian penentu terbukti tidaknya teori tersebut.
Katanya, “Proses surviving tersebut ibarat kita membuat roti. Setelah adonannya jadi, masuk tahap pemanggangan di oven. Kita tinggalkan adonan di dalam oven hingga matang. Justru jika proses pemanggangan itu diinterupsi dan kita membuka oven, ya roti tidak akan jadi.”
Artikel selengkapnya dapat ditemukan di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi 21 – Desember 2011 – Januari 2012.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more