
Dengan bermandi air hujan dan nyanyian burung juga datang sejumlah diploma dan lulusan perguruan tinggi. Bagi para pekerja seperti perusahaan konsultan, hal ini berarti satu hal: gelombang baru dari kandidat-kandidat Generasi Y yang meluluskan resumenya.
Mang

kuk perbauran generasi ini penuh dengan dampak; lebih ketimbang yang sebelumnya telah terjadi, dunia bisnis sedang mengalami jangka waktu terpanjang dari rentang waktu generasi antar karyawan. Para babyboomers memperpanjang proses pensiun mereka sebagai tanggapan terhadap kebutuhan kesehatan (kemampuan untuk bekerja lebih panjang secara fisik) dan resesi ekonomi (kebutuhan finansial untuk bekerja lebih lama). Demografi yang besar ini telah mencapai titik ekuilibrium dalam temapt kerja dengan generasi penerus mereka, Generasi X, ketika Generasi Y memasuki persamaan dengan pengalaman-pengalaman berbeda, metodologi berbeda dan sikap berbeda.
Generasi Y, atau “Millennials” sebagaimana mereka biasanya disebut, adalah mereka yang lahir antara tahun 1980 – 2000. Banyak orang merasa bahwa “anak-anak bertitel” ini terobsesi dengan segala sesuatu yang sifatnya bernaskah (texting), Ipod dan Facebook lebih cenderung bersifat anak-anak manja yang bandel ketimbang para professional bisnis.
Bagaimanapun juga, tidak ada waktu yang lebih krusial ketimbang saat ini untuk menunjukkan fakta bahwa stereotype tersebut dan pecahkan kode untuk bagaimana menggunakan para pekerja yang sangat menguntungkan ini. Hal ini khususnya sangat penting untuk staf-staf perusahaan, sebagai langkah cepat dan dinamis dalam dunia industry ini telah banyak yang diraih dari pemanfaatan demografi yang sangat bernilai ini.
Beberapa artikel telah menulis gaung sentiment dari Babyboomers dan GenX lintas negara, benang merah bahwa para Millenials memiliki reputasi buruk. Tapi apakah reputasi itu dibenarkan? Beberapa komunitas sekitar generalisasi ini termasuk bahwa para Millenials itu manja, individu-individu yang berhak memohon dan mengharapkan kondisi menyenangkan secara instan dari yang sedikit hingga tidak bekerja. Mereka butuh tangan mereka berpegang pada temapt kerja dan tidak mampu memohon bagian mereka sendiri. mereka menunjukkan sedikit hormat keapda par asenior dan pendamping, serta ketidakloyalan kepada perusahaan yang cukup ramah untuk mempekerjakan mereka. Dalam kenyataannya, ada begitu banyak kesenjangan antara sikap para Millenials yang sebenarnya dan persepsi-persepsi tentang mereka.
Artikel selengkapnya dapat ditemukan di Excellent Business Magz edisi November 2011.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more