Highlight

HENKY EKO SRIYANTONO : Pengalaman Pahit Berbuah Manis

 

Vita militia est. Demikianlah kata-kata bijak yang berarti hidup adalah perjuangan. Kalimat itu terasa mengena dan pas dalam penggalan perjalanan hidup Henky Eko Sriyantono atau Cak Eko. Perjuangan tanpa henti telah dilaluinya hingga kini ia berjaya de

HENKY EKO SRIYANTONO : Pengalaman Pahit Berbuah Manis

ngan bendera Bakso Malang Kota Cak Eko.

Pagi itu, Cak Eko menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan lika liku. Di usia yang masih tergolong muda, Cak Eko telah mengalami jatuh bangun di dunia bisnis yang sekaligus juga perjuangannya dalam memiliki hidup yang lebih baik keluarganya.

Perjalanan yang sesungguhnya bermula dari kepindahannya dari Surabaya ke Jakarta pada tahun 1997. Sebelumnya, antara tahun 1996-1997, Cak Eko hanyalah seorang karyawan di sebuah perusahaan kontraktor BUMN. Kondisi di Jakarta memang pada saat itu kurang berpihak kepada dirinya. Keluarlah sebuah daya yang ia namakan ‘the power of kepepet’.“Karena seperti kalau orang kepepet itu mesti mencari suatu peluang untuk menghidupi saya selama di Jakarta. Karena saya waktu itu kost. Nah peluang pertama yang saya tangkap adalah jual beli handphone second,” ujar pengusaha lulusan S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya dan S2 Manajemen Proyek Universitas Indonesia  ini.

Itulah bisnisnya yang pertama. Meski hanya bertahan selama 8 bulan saja, Cak Eko mengakui bahwa dari pengalaman pertama inilah ia belajar tentang bisnis dan dirinya seperti di tempa oleh pengalaman konkret berbisnis.

Bisnisnya yang kedua ia jalani pada tahun 1998. Ketika itu ia mencoba peruntungan di bisnis multi level marketing (MLM). Pada bulan ke-5, Cak Eko memutuskan untuk keluar dari bisnis ini lantaran tidak mendapatkan downline

Setahun kemudian, ia bekerja sama dengan 7 orang temannya untuk budidaya tanaman jahe gajah. Modal hasil patungan terkumpul sebanyak Rp. 40 juta. Namun sayangnya terjadi gagal panen dan hanya menyisakan uang Rp. 16 juta saja.

Tahun 2000, Cak Eko memutuskan untuk mulai menjual dompet dan tas yang diproduksi dari Tanggulangin, Sidoarjo. Ketika itu ia berhasil memasukkan produk-produk tersebut ke sejumlah butik di mal di Jakarta. Modal bisnis yang berjumlah Rp. 13 juta ia dapatkan dari sisa uang saku perjalannya ke Jepang, hasil dari terpilihnya artikel teknik buatan Cak Eko di suatu sayembara penulisan artikel teknik. Meski barang telah memasuki sejumlah butik di mal di Jakarta, Cak Eko harus mengikuti sistem yang berlaku di kebanyakan butik, yaitu sistem konsinyasi. Sistem ini menjadi persoalan tersendiri bagi Cak Eko yang memiliki keterbatasan modal. Sistem konsinyasi tersebut membuat pembayaran dari butik-butik tersebut tidak selancar yang diharapkannya. Ia kesulitan menjaga kelancaran cash flow. Bisnis ini hanya bertahan selama setahun saja. Sedangkan barang-barang yang ada di butik ia tarik kembali semuanya.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis EXCELLENT edisi Juni 2011.

 

tgh

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT