
SIAPA tak mengenal Ferry Salim. Bintang film tampan yang banyak di idolai wanita tersebut, memang sangat piawai berakting. Tapi siapa yang sangka, pemeran Tan Peng Lian dalam film Cau Bau Kan tersebut, ternyata doyan makan. Malah karena kegemarannya itu, suami Merry Prakasa ini sudah sejak lama berc

itacita memiliki sebuah restoran. "Sebenarnya saya juga suka memasak, di rumah kalau istri malas masak, saya yang masak", tutur Ferry bangga. Meski sudah sejak lama berkeinginan bisnis restoran, namun ada saja hal yang menjadi hambatan, "entah masalah waktu, atau ketika tempat sudah sreg, eh malah penuh", kata Ferry seraya menambahkan keinginannya itu sudah tertunda sekitar sepuluh tahun. Seiring berjalannya waktu, pria kelahiran 8 Januari 1967 ini bertemu kawan lamanya ketika kuliah di Amerika Serikat. Sang kawan yang bernama Kenjiro Nima, seorang warga negara Jepang, adalah konsultan masak. Alhasil, bersama Nima itulah, Ferry mantap merintis usaha restoran Jepang yang persiapannya sudah dimulai sejak Agustus tahun lalu. "Sejak saat itu, saya mulai melakukan pemilihan tempat dan lokasi, konsep interior sampai pemilihan bahan baku", urai Ferry antusias, ketika dijumpai saat pembukaan restoran miliknya. Shabu-Shabu Sistem Conveyor Belt Terlahir dari keluarga pebisnis membuat Ferry tak begitu saja menyia-nyiakan bakat bisnisnya. Meskipun di dunia entertainment namanya sudah sangat dikenal, namun jiwa bisnisnya tetap menggebu. Sebelum melirik bisnis restoran, pria berpostur tinggi ini, terlebih dahulu memiliki sebuah butik yang menyediakan pakaian batik. Maka dari itu, Ferry pun tak ragu menjajal kemampuan bisnisnya untuk menjalankan usaha restoran. Dan pada Senin 8 Februari kemarin, Ferry resmi membuka Shabu Slim, beberapa hari sebelum hari raya Imlek, "mudah-mudahan membawa berkah", harapnya. Untuk bersaing dengan restoran sejenis, pria yang ditunjuk Unicef sebagai duta nasional untuk Indonesia pada tahun 2004 tersebut, memiliki cara tersendiri. Restoran yang berlokasi di Central Park, Jakarta Barat itu menyajikan beragam masakan khas Jepang seperti shabu-shabu dan sushi, menggunakan rotating conveyor yang dijalankan dengan sistem conveyer belt. Jadi, pengunjung tinggal memilih makanan yang berputar mengelilingi meja mereka. Selain itu, restoran bernuansa oranye dan merah ini, juga mengusung "all you can eat". Nominator The Best Actor pada Festival Film Asia Pasifik tersebut, membatasi pengunjung untuk menikmati makanan selama satu setengah jam saja. Namun jangan buruburu kecewa dulu. Hal tersebut dilakukan Ferry, bukan tanpa alasan. Menurut pria berkulit putih ini, orang makan itu cukup menghabiskan waktu satu setengah jam. Ferry yang pernah menjadi Aktor Favorit pada Festival Film Bali ini, juga kerap memperhatikan pengunjung restoran di kota-kota besar dunia, dan menunjukkan hasil sama: makan paling lama satu setengah jam, sudah kenyang. Test Food Setiap Hari Shabu-shabu, sebagai menu utama di restoran ini, dipilih Ferry dengan alasan kesehatan. Selain menu tersebut merupakan kegemarannya, pria yang lahir di Palembang ini, juga mengatakan shabu-shabu memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi, karena makanan ini direbus. "Jadi ini makanan sehat", ujar Ferry yang berharap pengunjungnya bisa menjaga bobot tubuh dengan menyantap makanan olahan restorannya. Di tengah kesibukannya syuting sinetron stripping, Ferry pun menyempatkan diri melakukan test food setiap hari sebelum restoran dibuka. Hal tersebut dilakukannya demi mengontrol kualitas masakan, untuk kepuasan pengunjung, "saya melihat mereka, rasanya luar biasa sekali". Ayah dari Brandon dan Brenda ini juga siap menerima kritikan dari para konsumen, "saya tanya kepada tamu apa yang kurang, untuk kemudian segera diperbaiki." Kesibukannya berwirausaha, ternyata tak membuat Ferry ingin meninggalkan dunia hiburan. Pria yang sangat mencintai keluarganya ini, menginginkan akting dan bisinis bisa berjalan beriringan. Namun, jika nanti salah satu mesti dikorbankan, Ferry pun tak keberatan. "Mungkin kalau usaha saya sudah sangat maju, saat itulah saya meninggalkan dunia entertainment", tutur Ferry sambil tersenyum.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more