
Motivator Pertama
“Saya dibesarkan di kota kecil Siantan, Kalimantan Barat, di seberang kota Pontianak, yang note bene, masyarakatnya banyak dari kalangan bawah,” tutu

r Anthony Dio Martin, seorang motivator dan penulis 9 buku best seller di sebuah kafe seusai siaran radio rutinnya di SmartFM.
Kondisi sosial yang demikian menjadi tantangan besar bagi masyarakat di Siantan untuk memperoleh pendidikan formal yang tinggi. Tapi untungnya, ada figur Sang Ibu yang selalu setia menegakkan prinsip pentingnya pendidikan untuk hidup.
Kala itu, situasi ekonomi keluarga cukup sulit. Sang ibu harus membesarkan 8 orang anak, karena sang ayah telah tiada. Banyak pekerjaan 'kasar' dan 'sulit'-pun dikerjakan Sang Ibu demi bertahan hidup, mulai dari menyulam karung beras yang robek hingga cuci baju.
Dari pengalaman konkret sehari-hari sang ibu itulah Anthony belajar bertanggung jawab, disiplin dan prinsip-prinsip penting lainnya. Selain itu, satu hal yang terwariskan kepada Anthony adalah tradisi mendongeng. Dahulu, ketika sang ibu sedang menyulam atau duduk beristirahat, Anthony biasa tidur di pangkuannya. Ketika itulah sang ibu biasa mendongeng kepadanya.
Pengalaman hidup yang demikian, menjadi sebuah modal bagi Anthony. Ia mengakui bahwa ia banyak belajar dari sang ibu tentang apa saja prinsip-prinsip hidup yang baik dan bagaimana menyampaikan prinsip-prinsip tersebut lewat tutur kisah dongeng. Hal ini pula yang kelak di kemudian hari menjadi ketrampilan banyak dilakukannya tatkala ia menjadi pembicara dan motivator, yakni ketrampilan bercerita (story telling). Dengan kata lain, sosok ibu beserta teladan hidupnya menjadi motivator pertama bagi Anthony.
Sentuhan Pertama
Suatu ketika, tatkala Anthony kecil yang baru lulus SD, ikut di suatu acara yang mirip acara arisannya ibu-ibu. Saat itulah, ada seorang ibu yang tampaknya dari kalangan sosial lebih tinggi bertanya kepada Ibunda Anthony, “Ngomong-ngomong, anakmu bersekolah di mana?”
“Oh, anak saya diterima dan bersekolah di SMP itu,” jawab sang ibu sembari menyebut sebuah nama SMP.
Lantas ibu yang bertanya tadi agak terkejut, “Apa?? Itu kan sekolah SMP favorit. Jangan-jangan anakmu bisa gak diterima dan kalau pun masuk, bisa-bisa gak naik kelas.”
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis EXCELLENT edisi Februari 2011.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more