
Ketika banyak selebriti yang mengambil jalur ‘kuliner’ sebagai ‘sumur’ penghidupannya di samping dunia hiburan, sosok Ari Wibowo justru dengan tenang dan perlahan memantapkan pilihannya menelurusi jalur ‘konsultasi’. Spesiali

sasinya pun masih belum begitu popular di Indonesia. Meski begitu, kehadirannya pasti dibutuhkan bagi setiap orang yang merepresentasikan perusahaannya.
Jarum jam menunjukkan angka 11.45. Menjelang tengah hari, kami menanti kedatangannya di ruang tunggu kantor Virtue, perusahaan konsultan pencitraan milik Ari Wibowo. Sekian detik, menit berlalu begitu saja tanpa permisi. Dan akhirnya kami menemui sosok pria kelahiran Berlin yang pernah membintangi sejumlah film layar lebar dan sinetron tersebut.
“Halo, apa kabar? Terima kasih sudah mau menunggu saya,” sapanya dengan ramah.
Kali itu, sosok yang tampak pada dirinya adalah sosok seorang pebisnis, bukan seorang selebriti. Siang itu label keglamoran tampak jauh dari dirinya.
***
Semenjak memulai Virtue di tahun 2009 dan tahun 2010 ini meresmikannya, Apa saja tantangan yang Anda hadapi?
Kami masih menghadapi persoalan mengenai nama “virtue”. Kata “virtue” itu sendiri masih agak sulit untuk diucapkan. Biasanya, orang berpikir, daripada malu salah mengucapkannya, mending tidak usah disebut sama sekali. Kalau sudah begini, kami bisa kehilangan customer hanya gara-gara nama yang susah disebut atau malah karena mengingatkan customer terhadap merek lain.
Maka dari itu, kami sedang dalam proses merumuskan nama yang lebih mudah disebut, diucapkan, gampang diingat dan tetap sejalan dengan visi misi kami sekarang.
Kata “virtue” itu sendiri memiliki arti: moral pribadi seseorang, moral yang lebih berkualitas.
Selain tantangan di kata “virtue” itu sendiri, tantangan lain ada di kata “image” (citra). Banyak orang sekarang ini masih ada yang menganggap citra itu hanya di luar saja. Jadi disangkanya kami lebih kepada grooming center yang cuma mempercantik seseorang, baik dalam pakaian dan lainnya. Dan itu memang bagian dari citra. Jadi penampilan luar hanya sebagian saja dari apa yang namanya citra. Kami mau seseorang menjadi lebih representatif, terkesan lebih profesional, lebih baik ketika harus membawa nama perusahaan.
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis EXCELLENT edisi Desember 2010-Januari 2011.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more