
Pada taraf sistem ekonomi paling sederhana, manusia berupaya memenuhi kebutuhannya dengan melakukan barter atau saling bertukar dengan sesamanya. Tahap selanjutnya hadir sebuah alat yang bernilai sebagai alat ukur setiap komoditi. Alat itu adalah

uang. Kini, kita telah berada di sebuah tahap dalam sistem ekonomi yang mulai mengurangi penggunaan uang kartal.
Ketika sebuah barang menjadi sebuah komoditi yang bisa diperdagangkan, maka secara serta merta pula barang atau komoditi itu berlabelkan sekian rupiah. Uang kertas dan logam menjadi alat yang melabelkan nilai nominal sebuah komoditi. Persoalan berapa nilai yang harus dikenakan terhadap dua komoditi yang hendak dipertukarkan kini bukan lagi masalah.
Sekarang, transaksi, yang dahulu bernama barter, tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar. Yang terjadi sekarang adalah komodifikasi. Nyaris semua hal, baik itu benda atau pun sesuatu yang non fisik, dapat diperjualbelikan. Dari segi alasan terjadinya transaksi, kita membeli sesuatu bukan lagi hanya sekadar karena membutuhkannya. Motivasinya bukan lagi di ranah kebutuhan primer, melainkan sekunder.
Kebutuhan sekunder memang bisa dianggap tidak begitu perlu dan kurang penting. Tapi bagaimana jika kita lenturkan ruang makna ‘sekunder’? Kebutuhan sandang, pangan, papan memang masih berstatus yang utama alias primer (latin – prima, yang berarti ‘pertama’). Di luar itu, ada status sekunder (Latin – secundi, yang berarti ‘kedua’). Kebutuhan sekunder ini biasanya tidak perlu dipermasalahkan jika tidak bisa dipenuhi. Namun, bagi Anda, seorang profesional, sering kali kebutuhan sekunder seperti aksesori pelengkap penampilan, kendaraan pribadi, telepon cerdas, notebook hingga menyeruput kopi luwak di sebuah mall mewah dan makan siang di salah satu restoran bergengsi di Jakarta bukan hanya sesuatu yang sekunder saja. Benda yang melekat pada diri Anda, benda yang Anda gunakan sehari-hari, tempat-tempat yang Anda kunjungi sudah dimaknai secara khusus oleh Anda dan para produsen.
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di majalah EXCELLENT edisi Oktober 2010.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more