
Jalan itu menyempil di samping pom bensin. Papan nama jalan pun terlihat dibuat ala kadarnya. Nyaris saja jalan itu luput dari perhatian. Masuk ke dalam melalui jalan itu, tibalah di sebuah gedung kantor kecil yang menawan. Di sanalah tempa

t bersejarah bagi Indra Brasco.
Celaka Membawa Nikmat
Mulanya, Indra hanyalah seorang pemuda yang merantau ke Jakarta. Modal? “Orang bilang sih modal dengkul,” ujar Indra sembari mengenang masa lalunya. 1995, Indra nekat pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib karena ia protes terhadap keinginan sang ayah yang memintanya studi bisnis.
Setibanya di Jakarta, sekitar tahun 1995, Indra pernah bekerja sebagai sopir pribadi. Tahun 1996, Indra mendapat kesempatan untuk berakting di sinetron. Tahun 1997, ia pernah berprofesi sebagai agen asuransi dan hanya bertahan 4 bulan saja. Tahun 1998, badai, krisis moneter melanda Indonesia. Pada masa sulit ini, banyak rumah produksi yang tidak melakukan syuting sinetron. Keadaan mulai berubah bagi Indra. “Saya seperti tidak punya pegangan untuk hidup,” katanya.
Indra pernah ‘mengemis’ pekerjaan kepada teman-temannya yang memiliki produser. Dengan kondisi Indra saat itu, banyak teman-temannya yang kebingungan harus memberinya pekerjaan apa. Ia masih ingat betul apa yang dikatakannya ketika meminta pekerjaan kepada salah seorang produser, “Saya gak butuh terkenal. Saya hanya butuh untuk membayar kost dan makan.”
Untuk menyambung hidup, Indra, yang saat itu telah menjalin hubungan dengan Mona Ratuliu, harus ‘menumpang’ hidup dari Mona. Akhir dekade 90-an memang masa jayanya Mona di layar televisi. Di masa sulit itu Mona banyak membantu Indra untuk bertahan hidup di Jakarta.
Detik waktu berjalan terus diiringi menit dan jam. Hari demi hari berlalu. Hingga pada suatu ketika di tahun 1999, Indra berkesempatan menjadi manajer dari Mona. Dari pendapatan sebagai manajer artis, Indra mulai mendirikan sebuah management artist dan mengontrak di kantor yang kini telah menjadi miliknya. Bersama salah seorang sahabat, Indra bekerja sama mendirikan sebuah Perseroan Terbatas. Tidak berapa lama kemudian, muncul perbedaan visi dan misi di antara keduanya. Dengan berat hati, kerja sama yang sudah terjalin pun harus berakhir di tengah jalan.
Perseroan Terbatas itu dibawa oleh sang sahabat. Sedangkan Indra sendiri berupaya mempertahankan kantornya. Sebagian saham pun dibeli oleh Indra. Lalu apa yang terjadi?
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di majalah EXCELLENT edisi Oktober 2010.


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more