Highlight

Poppy Darsono, Kuatkan Identitas Bangsa Lewat Fashion

Pada tahun 70-an, namanya berkibar sebagai salah satu model papan atas di tanah air. Tetapi perempuan ini tidak mau berhenti di situ. Dengan kerja keras dan keuletannya, ia berhasil menjadi desainer dan pengusaha ternama. Kini, waktu dan tenaganya ia curahkan untuk memikirkan nasib rakyat yang diwak

Poppy Darsono, Kuatkan Identitas Bangsa Lewat Fashion

ilinya lewat Dewan Perwakilan Daerah. Dialah Poppy Susanti Darsono yang lebih dikenal dengan Poppy Darsono. Poppy Darsono memang merupakan wajah baru di Senayan. Namun, bagi Poppy, perjuangan mengangkat harkat, martabat, budaya dan kekayaan Indonesia bukan merupakan hal baru. Hanya arena tempatnya berjuang saja yang mungkin berbeda. Nama Poppy tidak asing di kancah modeling Tanah Air sejak awal 1970-an. Namun, Poppy tidak puas hanya menjadi model yang hanya memakai pakaian rancangan dari desainer lain. Ia berpikir maju ke depan, mencoba menjadi seorang desainer. Karir Poppy sebagai desainer bermula ketika dia menuntut ilmu di Ecole Superieur de La Mode (Esmond) Paris Prancis. Semula, ketika berangkat ke Prancis, Poppy berniat masuk ke jurusan sinematografi. Maklum, sebelum berangkat ke salah satu kiblat mode dunia itu, Poppy pernah kuliah di Akademi Sinematografi, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Tapi, niatnya berubah begitu menyadari bahwa fashion mempunyai potensi untuk memberikan devisa yang luar biasa kepada negara. Selain itu, kuliah sinematografi dinilainya cukup panjang. "Juga ada yang menilai bahwa saya mempunyai selera fashion yang tinggi," kenang Poppy. Sepulang ke tanah air pada awal 1980-an, Poppy langsung road show ke berbagai daerah untuk melihat dari dekat potensi kekayaan Indonesia, termasuk batik. Saat itulah dia memberanikan diri membuka usaha industri pakaian yang padat karya dan 100% berorientasi eksport, di bawah bendera PT. Rana Sankara. Poppy memulai usahanya dengan hanya lima mesin. Ia berusaha membangun usahanya dengan menjaga dan senantiasa memperbaiki kualitas dari produk-produk yang dihasilkannya. Ia tidak segan-segan membeli baju-baju mahal dari luar negeri untuk dibongkar dan dipelajari bersama para karyawannya, agar mereka tahu seperti apa produk pakaian yang berkualitas. "Itu menjadi visi saya agar pegawai saya mengerti apa itu baju bagus," cerita Poppy. Dengan ketekunan dan sikap mau terus belajar itu, perusahaannya terus tumbuh dan kini sudah mempekerjakan ratusan orang karyawan. Jika menengok ke belakang, ketika ia memulai usahanya di bidang industry pakaian, Poppy mengakui keseriusan pemerintah meningkatkan produkproduk berorientasi ekspor. Menurut Poppy, kala itu pemerintah Indonesia sama seperti pemerintah Cina sekarang yang serius menggenjot eksport, sehingga pemerintah memberikan service yang luar biasa kepada industri padat karya. Bunga kredit pun waktu itu cukup kecil, yaitu 9%, padahal di luar negeri kala itu sudah sebesar 15%. Selain itu, semua proses investasi dimudahkan. Pemerintah juga dinilai sangat konsen memberikan pekerjaan kepada tenaga kerja-tenaga kerja Indonesia sampai tamatan sekolah dasar. Poppy memang tipe orang yang tidak pernah puas, sehingga kesuksesan demi kesuksesan berhasil diraihnya, walaupun banyak tantangan yang dihadapi. Karena kerja keras dan usahanya, berbagai jabatan telah dipegangnya, seperti Komisaris PT Panin Sekuritas (1980-sekarang), Presiden Direktur PT Poppy Dharsono (1989-2010), Komisaris PT Spi-nindo Mitradaya, Presiden Direktur PT Pesona Sinjang Kencana, Presiden Komisaris PT Ihdotex LaSelle International (Pada tahun 1999-2010), Komisaris Yayasan Nusantara Stroke Center (2002-2010), Presiden Komisaris PT Hasta Bumi Mandiri (2003-2010) serta jabatan lainnya. Dalam berusaha, wanita kelahiran Garut, 8 Juli 1951 ini tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia mempunyai komitmen kuat untuk membantu usaha mikro Dalam berusaha, wanita kelahiran Garut, 8 Juli 1951 ini tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia mempunyai komitmen kuat untuk membantu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pengalamannya hidup di sejumlah negara menumbuhkan komitmen kerakyatannya. Komitmen kepada UMKM itu juga ia tunjukkan dengan menjadi Ketua delegasi Misi Pameran Kerajinan Indonesia ke Erba, Italia (1994). Poppy yakin bahwa harus ada upaya yang serius, sistematik, dan tak kenal lelah untuk mengangkat kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah kebawah di Indonesia. Karena itu, dia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan UMKM, misalnya bergiat di komonitas kopra, furniture, kerajinan, dan sebagainya. Ia juga beberapa kali memimpin misi dagang dan pameran kerajinan Indonesia ke luar negeri. Dengan perhatian yang besar terhadap UMKM, maka tidak heran ketika perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) diberlakukan, dia termasuk salah satu tokoh yang "berteriak," mengingatkan pemerintah mengenai ancaman terhadap dunia industri kecil. Menurutnya, Indonesia belum siap untuk melaksanakan perjanjian ACFTA, walaupun hal itu sudah ditandatangani sejak 2002 lalu. Masalah paling nyata akan dirasakan oleh sektor industri menengah ke bawah yang tidak memiliki network yang kuat. Menurut Poppy, pemerintah Indonesia sangat aneh. Sebab sejak ditandatanganinya ACFTA pada 2002 tidak ada persiapan yang dilakukan untuk menyambutnya. Baik pada masa Presiden Megawati maupun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal, jika SBY mau mempersiapkan sejak masa pemerintahannya yang pertama, ancaman terhadap UMKM tidak perlu terjadi. Hal ini berbeda dengan China yang mempersiapkan perdagangan ini dengan matang. "Waktu lima tahun masa pertama pemerintahan itu sebenarnya masa yang cukup untuk membangun industri yang kuat," kata Poppy. Tidak dapat dipungkiri, saat ini industry Cina sangat mengancam. Produk yang dihasilkan industri Cina sangat beragam. Mulai dari yang berkualitas jelek, menengah hingga yang bagus. Bahkan pabrik-pabrik dunia yang besar semuanya punya pabrik di cina. Cina, menurutnya, sudah punya fashion industri. Untuk mendukung itu China juga mempunyai wool, sutra dan semua bahan baku garmen ada di sana. "Mereka sudah mempersiapkan dengan baik sebelum adanya perdagangan bebas," Poppy berharap, Presiden atau pemerintah harus memiliki tim yang bisa menegoisasi perjanjian ini. Walaupun perjanjian sudah ditandatangi, menurut Poppy, masih ada peluang untuk ditinjau ulang. Jika tidak, akan banyak industri yang gulung tikar, terutama garmen dan elektronik. Apalagi sudah beberapa waktu sejumlah industri garmen tutup. Saat ini, pemerintah menurutnya harus bisa mengumpulkan semua sub sektor industri. Karena semuanya mempunyai masalah yang berbeda beda. Untuk UMKM, pemerintah perlu membentuk inkubator- inkubator di setiap sentra. Di Jawa Tengah saja menurut Poppy ada 17 sentra UMKM. FASHION INDONESIA Bagi Poppy, fashion bukan hanya masalah aneka busana. Namun juga merupakan wujud kepribadian bangsa. Semenjak berkiprah lebih dari 34 tahun di dunia fashion, Poppy selalu berusaha membangun karakter. "Saya ingin mempunyai fashion dengan kepribadian Indonesia, dengan teknik barat, estetika yang tinggi antara barat dan timur yang dipadukan, tapi identitas dari Indonesia," ujar Poppy. Menurut Poppy, Indonesia mempunyai ratusan warisan nenek moyang yang bisa diolah menjadi fashion. Ini merupakan sarana untuk mengembangkan identitas Indonesia. Dia mencontohkan, di Jepang ada Kimono, di India ada Sari, begitu juga negara lain. Dia berharap ketika orang mendengar batik, masyarakat internasional langsung mengerti bahwa itu adalah identitas Indonesia. Untuk mewujudkan hal ini, Poppy selalu memasukkan berbagai unsur kekayaan bangsa, seperti batik, songket, lurik, traso dan lain-lainnya pada setiap busana yang dihasilkannya. Karenba itu, ia sadar betul perlunya kolaborasi antara perancang busana dengan pengrajin tradisonal. Perancang busana, menurutnya, bisa memakai motifmotif tertentu atau mengusulkan corak-corak baru kain tradisional itu. "Misalnya dengan meminta warna tertentu lebih ditonjolkan biar terlihat lebih fashion atau dengan cara lainnya," ujar Poppy. Dengan jabatannya sebagai pendiri dan mantan ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang mempunyai cabang di sejumlah daerah dengan lebih dari 160 perancang busana, Poppy mengharuskan mereka untuk mengakomodir kekayaan lokal. Untuk mengintensifkan "kampanye" kekayaan bangsa, sejak 1977 secara rutin ia menyelenggarakan fashion show yang mengangkat bahan-bahan tradisional Indonesia di Jerman (Duesseldorf, Frankfurt, Berlin), Amerika Serikat (Los Angeles, New York, Chicago, San Fransisco), Singapura, Belgia (Bruseels), Perancis (Paris), Kanada (Montreal), Belanda (Amsterdam, Roterdam), Jepang (Tokyo, Osaka), Swedia (Stockholm), Cekoslovakia (Praha), Malaysia (Kuala Lumpur), Bangladesh (Dhaka), Australia (Sydney, Melbourne), RRC (Beijing), dan juga di dalam negeri (Jakarta, Solo, Bali). Selain itu Poppy juga bersyukur karena dalam setiap acara seromonial, batik selalu dipergunakan. Memang sejumlah daerah seperti Jawa, Jambi, Bengkulu dan selalu mempunyai corak batik tertentu. "Setiap hari kita pakai batik saja itu akan memberikan dampak yang bagus bagi industri batik," tutur Poppy kepada Excellent.

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Focal Point Coaching
PAULISTA SHOES
MIS
AJ Bakery
www.elliessutrisna.com
Blomst
Wealthy Billionaire
Excellent Learning Center
PROLINK
Video Art Indonesia
HOTLINER
HDP
HOP HOP
Twitter EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
HDO
Scanie
Buku KOMPILASI
Prima Graphia
EXCELLENT BUSINESS MAGZAvailable Space