
Belanja pada hakekatnya adalah aktivitas membeli barang. Soal tempat, bisa di mini market, toko kelontong, pasar tradisional hingga sebuah pusat perbelanjaan mewah di pusat kota. Awalnya hanya sekadar memenuhi kebutuhan dasar saja. Namun kini, berbelanja me

njadi sebuah kebutuhan tersendiri bagi masyarakat urban.
SenayanCity, Grand Indonesia, Pondok Indah Mall, Mega Mall Pluit, Gandaria City. Deretan nama pusat perbelanjaan mewah nan mentereng itu bisa semakin panjang jika kita runut terus. Meski berbeda konsep dan pengelolanya, ada benang merah yang bisa diketahui bersama, yaitu pusat perbelanjaan itu bukanlah sekadar tempat orang mencari barang. Lalu apa yang ditemukan oleh setiap pengunjungnya di sana?
Mari kita lihat suasana di sana. Tempatnya sangat nyaman dan bersih. Suasana yang tercipta juga meriah dan menyenangkan. Seakan mata ini dimanjakan oleh etalase-etalase dan tata ruang yang memukau. Segi keamanan sangat terjamin.
Kini banyak pengelola pusat perbelanjaan yang membangun mall dengan konsep one-stop-shopping atau tematis. Harapannya, setiap pengunjung dapat menemukan dan memenuhi aneka macam kebutuhannya hanya di sebuah tempat perbelanjaan. Mulai dari urusan dapur hingga garasi. Bahkan, banyak keluarga yang kini menjadikan mall sebagai pusat rekreasi. Selain berbelanja, anak-anak pun bisa berekreasi karena tersedia wahana permainan anak di mall tersebut.
Meski Jakarta terasa semakin sempit, hingga kini masih saja ada pembangunan mall atau pusat perbelanjaan di sejumlah tempat. Maka para pengelola mall harus semakin jeli melakukan diferensiasi segmen pasar. Secara tampilan lahiriah, Anda bisa mengetahui segmen pasar yang dituju oleh pengelola mall. Tempat seperti Senayan City atau Grand Indonesia tentunya sudah jelas menentukan pangsa pasarnya yang berbeda dari sebuah trade center.
Dengan menargetkan pangsa pasar masyarkat urban yang nota bene kalangan menengah atas, pengelola mall menghadirkan berbagai macam merek (brand) dari luar negeri yang sudah tersohor. Label harganya juga tidak kurang dari 6 digit angka. Dan tentu saja, tesis umum yang berlaku di sana adalah ada harga, ada rupa. Kualitas barang dengan bandrol harga yang tidak murah menjadi faktor penting yang ditawarkan kepada konsumen. Dijamin, konsumen tidak hanya bisa mejeng dengan tampilan yang up-to-date, namun sekaligus juga berkualitas.
Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis EXCELLENT edisi 06, Agustus 2010.


Pada umumnya setiap pemilik bisnis, leader dan eksekuti…Read more
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong s…Read more
Tidak terasa kita sudah berada di bulan Desemb…Read more