
Siapa yang tidak kenal lelaki berperawakan tinggi ini? Namanya Tung Desem Waringin. Pembaca tentu masih ingat kehebohan yang sempat dibuat oleh motivator financial papan atas ini. Pertama, pada tahun 2005, ia melakukan aksi sensasional, menunggang kuda di sepanjang jalan Sudirman dengan berpakaian a

-la Panglima Besar Jenderal Soedirman sambil membawa poster bergambar buku yang sedang dilaunchingnya, Financial Revolution. Cara unik meluncurkan buku dengan gaya seperti itu memang sesuatu yang baru di tanah air dan menyentak perhatian publik. Berbagai media, baik cetak maupun televisi meliput aksi yang sangat menarik dan inspiratif ini. Maka tidak heran jika kemudian buku yang diluncurkannya langsung ludes terjual pada hari pertama penjualannya. Bahkan jumlah permintaan mencapai 10.115 eksemplar, melebihi jumlah cetakan pertama yang hanya dicetak sebanyak 10.000. Terpaksalah 115 orang harus rela menunggu hasil cetakan kedua. Prestasi penjualan bukunya yang demikian fenomenal membuat Museum Rekor Indonesia (MURI) menabalkan namanya sebagai Penulis Buku Inspirasional Pertama Financial Revolution di Indonesia yang penjualannya melebihi 10.511 exemplar pada hari pertama peredarannya. Aksi kedua dari lelaki yang biasa disebut TDW ini lebih sensional lagi, bahkan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Tahun lalu, ia menyebarkan uang seratus juta rupiah dari atas helikopter di daerah Serang, Banten sebagai bagian promosi peluncuran buku fenomenalnya yang kedua, Marketing Revolution. Kontan saja, aksi berani itu menuai perdebatan, pro dan kontra di berbagai forum. Tung Sendiri mengakui kalau dirinya sudah menduga akan menerima tanggapan seperti itu dari masyarakat. "Sudah saya ramalkan, setiap Anda populer, akan ada yang positif dan negatif. Selama Anda i'tikadnya positif dan hasilnya positif, akhirnya yang positif yang menang," ungkap Tung kepada Excellent beberapa waktu lalu di Jakarta. Tung mengakui, bahwa cara unik dalam memasarkan dua bukunya seperti itu memang membuahkan sensasi yang luar biasa. Tapi dia menyangkal kalau hanya sekedar sensasi saja yang membuat dua bukunya itu laris di pasaran. 'Kenapa bukunya laku? Apakah sensasional doang? Sensasional, yes! Tapi yang kedua, kontennya. Selain konten juga harus ada nilai tambah. (Buku Financial Revolution merupakan) satu-satunya buku di tahun 2005 yang berhadiah 2 Cd audio dan satu tiket seminar keliling Indonesia seharga 800.000. Bayangkan, beli buku 90.000, hadiahnya 1 juta. "Hujan uang itu tidak akan meningkatkan penjualan. Hujan uang hanya membuat orang kenal saya. Yang membuat buku itu laku dengan penjualan 38.878 eksemplar di hari pertama, karena penawarannya, yaitu berhadiah 5 cd audio dengan topic menarik, Bagaimana Menjual dalam 3 Menit. Ditambah 2 tiket seminar tiga hari secara gratis yang biasanya 1 tiket saya jual 5 juta rupiah,' ujar Tung. Penjualan sebanyak itu merupakan penjualan buku terbanyak di hari pertama peluncurannya, melebihi penjualan hari pertama buku Harry Potter dan buku-buku laris lainnya di Indonesia. DARAH MARKETING Tung lahir di Solo 22 Desember 1967. Ia tumbuh dalam keluarga yang menerapkan disiplin dan menjunjung kerja keras. Ayah Tung, Tatang Sutikno, adalah seorang pemilik toko emas di Solo. Sejak kecil, Tung dididik untuk bisa membantu kelangsungan bisnis toko emas ayahnya. Bahkan, ketika ia duduk di bangku kelas 2 SD, ia dan kakak-kakanya sudah diminta memikirkan bagaimana agar toko itu laris dan mendatangkan keuntungan bagi keluarga. "Waktu itu papa mengumpulkan kami. Dia bilang, kita harus bisa jualan, karena kalau kita tidak bisa menjual, maka toko ini akan ditutup. Kalau toko ditutup, berarti kalian tidak bisa sekolah dan kita juga tidak bisa makan," ungkap Tung menirukan kata-kata ayahnya. Sejak saat itulah ia tertarik dengan dunia marketing atau dunia jualan. Dan ketertarikannya kepada dunia marketing itu ia salurkan dengan menjadi sales emas pada saat menjadi mahasiswa UNS (universitas Nasional Sebelas Maret) Solo. Emas itu ia ambil dari kakaknya dan dari seorang pengusaha emas di Jakarta. Hasil jerih payahnya menjajakan emas ke berbagai kota seperti Semarang, Pati, Tayu, Ambarawa hingga Pekalongan itu membuatnya memiliki penghasilan yang cukup lumayan untuk ukuran mahasiswa pada waktu itu. Anehnya, meskipun cukup sibuk berjualan emas, Tung justru terpilih menjadi mahasiswa teladan di kampusnya. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Selepas kuliah, pada tahun 1992 Tung berhasil diterima bekerja di BCA mengalahkan ribuan pelamar lainnya. Ia dikirim ke BCA cabang Surabaya untuk membenahi cabang-cabang pembantu yang hasil audit operasionalnya terburuk se-Indonesia. Keputusan perusahaan mengirim Tung ke Surabaya ternyata sangat tepat. Meskipun bekerja anak buah, tanpa jabatan dan kewenangan, tetapi dalam waktu empat bulan, Tung berhasil merubah kondisi BCA cabang Surabaya yang semula menempati nomor 20 menjadi cabang dengan hasil audit terbaik. Sukses di Surabaya, membuat Tung dikirim kembali ke cabang-cabang lainnya, yaitu ke Kupang dan Malang. Di sini ia kembali menuai sukses, membenahi kinerja operasional dua cabang tersebut. Berkat kerja keras dan kemampuannya Tung dipercaya memimpin BCA Cabang utama Malang. Disini, lagi-lagi ia menunjukkan prestasi yang luar biasa. Pertumbuhan kartu ATM di cabang yang dipimpinnya tercatat terbesar di seluruh Indonesia. Bahkan, pada tahun 1998, ketika terjadi penarikan dana besar-besaran di berbagai bank di tanah air, hampir semua cabang BCA kehabisan uang, kecuali cabang yang dipimpinnya, justru kelebihan uang. SEBUAH TITIK BALIK Prestasi-prestasi luarbiasa itu membuat beberapa perusahaan mencoba menariknya, tetapi Tung bergeming. Meskipun perusahan- perusahaan itu menawarinya gaji beberapa kali lipat dari gaji diperolehnya di BCA, Tung memilih bertahan. Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang menjadi titik balik hidupnya. Pada tahun 2000, ayahnya jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura. Disinilah Tung tersadar, ternyata gajinya sebulan tidak cukup untuk membayar satu malam biaya perawatan di RS Mount Elizabeth. Pada saat di Singapura itulah Tung membeli satu set kaset Anthony Robin. "Kenapa saya membeli kasetnya? Beli bukunya sudah merubah hidup. Tahun 1995 saya membeli bukunya Anthony Robin, karir saya sudah meroket. Saya yakin, kalau saya dengar kasetnya akan lebih hebat lagi," cerita lelaki tiga anak ini. Nah, dalam Kaset pertama, Anthony Robin bertanya, "Apa dua hal kecil yang selama ini ingin kamu lakukan tapi kamu tunda-tunda?" Ternyata pertanyaan itu menimbulkan keberanian dalam diri Tung untuk merealisasikannya. "Waktu itu saya putuskan dua hal. Satu adalah memeluk papa saya. Saya tidak pernah meluk papa saya. Soalnya beliau orangnya kaku, disiplin, dan sebagainya. Saya peluk papa saya, papa nangis saya nangis. Akhirnya kami jadi dekat sekali sampai beliau wafat. "Hal kecil kedua yang saya putuskan dari (mendengar) kasetnya Anthony Robin adalah keluar dari pekerjaan dan menerima tawaran pekerjaan yang gajinya tiga kali lipat lebih besar. "Akhirnya tahun 2000 saya memutuskan keluar, setelah 8 tahun berkarier di bank itu," kenang Tung. Selepas keluar dari bank tempatnya pertama bekerja, Tung ditawarkan pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional. Ternyata, di tempat barunya Tung tidak bertahan lama. Tidak sampai satu tahun, Tung mundur dari perusahaan itu. Ternyata, keberanian yang Tung dapat setelah mendengar kaset Anthony Robin membuat Tung penasaran dan ingin belajar lebih banyak lagi kepada motivator sukses dunia itu. Ketika mengantar ayahnya berobat kembali dirawat di Singapura, Tung membaca iklan di sebuah surat kabar yang memberitahukan bahwa Anthny Robin, Pelatih sukses nomor satu di dunia, akan datang ke Singapura. "Saya baca bukunya berubah hidup saya, saya dengarkan kasetnya saya berani ambil tindakan yang gila, lalu kalau saya ikut seminarnya akan seperti apa ini?" kenang Tung. Dalam rentang waktu yang sangat pendek, di tengah berbagai keterbatas yang ada padanya, Tung memutuskan untuk mengikutiseminar itu. "Saya putuskan, nekad! Dalam posisi tidak bekerja, orangtua sakit, isteri baru melahirkan anak kedua, tidak punya duit untuk bayar seminar, rumah belum punya, bahsa inggris tidak lancar. Punya hanya tanah, digadaikan, bahkan masih hutang kepada Napak Leo Chandra. Waktunya sudah mepet, tapi saya putuskan ikut. Waktu itu biayanya Sing $ 3500," cerita Tung. Ternyata, mengikuti satu seminar Anthony Robin tidak cukup bagi Suami Suryani Untoro ini. Kekagumannya kepada tokoh pelatih sukses itu membuatnya makin nekat lagi. Ia ambil kesempatan mengikuti seminar selanjutnya yang waktunya tinggal lima hari. Seminar itu diselenggarakan di Hawaii dengan tiket US$ 10.000, sebuah jumlah yang fantastik bagi siapa pun, apalagi bagi Tung yang sedang tidak bekerja lagi. Terpaksa ia jual tanah miliknya satu-satunya di Malang waktu itu. Tung akhirnya berhasil menjadi salah satu murid terbaik Anthony Robbins dan terpilih sebagai Exclusive Indonesia Anthony Robbins Authorized Consultant. Ia juga menjadi murid Robert G. Allen, pakar marketing terkemuka dunia. Bahkan ia juga menjadi Exclusive Indonesia Robert T. Kiyosaki Authorized Consultant. Perjalanan hidup Tung pun akhirnya berubah. Ratusan ribu orang sudah pernah mengikuti seminarnya. Sebagian besar dari mereka berhasil merubah hidup dari keadaan semula yang biasa-biasa saja menjadi jauh lebih baik. Namanya pun kini berkibar sebagai pembicara dan motivator yang paling diperhitungkan di negeri ini. Maka wajar saja jika Majalah Marketing menobatkannya sebagai Pelatih Sukses No. 1 di Indonesia dan Majalah Swa memasukkan namanya dalam salah satu tokoh The Most Powerful People & Ideas in Business 2005. Foto: Dok.Pribadi


Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mu…Read more
Jadilah Seorang Pembujuk yang Tidak Me…Read more
Petang itu dalam sebuah meeting yang …Read more
Ketika saya mulai mempelajari tentang manajemen waktu beberapa t…Read more